Opini

UU KIA DISAHKAN, AKANKAH MEMBAWA KESEJAHTERAAN BAGI IBU DAN ANAK?

104
×

UU KIA DISAHKAN, AKANKAH MEMBAWA KESEJAHTERAAN BAGI IBU DAN ANAK?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Hideyosi Mori

 

Pada awal Juni tepatnya tanggal 04/06/2024 DPR resmi mensahkan RUU KIA menjadi, UU Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) tersebut dianggap akan membawa angin segar bagi perempuan untuk tetap berkarir karena mendapat cuti dan tetap bisa bekerja dengan baik sehingga menguatkan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan. Dengan disahkannya UU KIA diharapkan akan menjadi tonggak awal untuk membangun kualitas manusia Indonesia sebagaimana yang disampaikan oleh wakil ketua komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily dalam Forum Legislasi bertema RUU KIA: Komitmen DPR Wujudkan SDM Unggul, di Kompleks Parlemen, Jakarta (04/06/24).

Poin yang menjadi sorotan banyak pihak dalam UU ini adalah kebijakan cuti melahirkan 6 bulan yang diberikan kepada pekerja perempuan dan jaminan tidak diberhentikan dari pekerjaannya serta tetap mendapatkan gaji penuh pada 3 bulan pertama dan bulan ke-4 serta pada bulan berikutnya hanya 75%. Untuk ibu keguguran diberi waktu istirahat 1,5 bulan dibuktikan dengan surat keterangan dokter. Tak luput, dalam UU tersebut juga menetapkan memberikan cuti 2 hari kepada pekerja laki-laki untuk bisa menemani istri selama masa persalinan.

Sekularisme-kapitalisme

Penerapan sistem sekularisme kapitalisme saat ini telah membentuk paradigma bahwa perempuan produktif adalah perempuan yang bekerja sehingga dapat kita saksikan kini para perempuan harus berlomba-lomba bekerja demi karir maupun keterpaksaan tersebab kondisi ekonomi keluarga yang tidak mencukupi, maka anak-anak akhirnya menjadi korban ketidakhadiran orang tua mereka terkhusus absenya para ibu dalam mendidik dan merawat mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *