Opini

UKT Terus Melambung, Bukti Sulitnya Menembus Menara Gading Pendidikan Tinggi

70
×

UKT Terus Melambung, Bukti Sulitnya Menembus Menara Gading Pendidikan Tinggi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Suaibah S.Pd.I.
(Pemerhati Masalah Umat)

Unjuk rasa digelar oleh ratusan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto untuk menolak kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Gedung Rektorat. Muhammad Hafidz Baihaqi, selaku Menteri Aksi dan Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed, mengatakan, unjuk rasa dilakukan karena UKT mahasiswa baru 2024 mengalami kenaikan berkali-kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya (tempo.co, 29/04/2024)

Kenaikan UKT tertinggi sebesar Rp52 juta yang sebelumnya hanya sebesar Rp9 juta di salah satu program studi mengalami kenaikan. Di program studi lainnyapun mengalami kenaikan. Rektor menerbitkan kebijakan baru soal Kenaikan UKT. Kebijakan itu yakni Peraturan Rektor Nomor Nomor 6 Tahun 2024 yang telah ditetapkan pada 4 April 2024. Walaupun akhirnya keputusan ini dicabut pada tanggal 29 April 2024 dan akan diputuskan ketentuan baru.

Bagi mahasiswa, Kenaikan UKT ini dianggap memberatkan, bahkan ada beberapa mahasiswa memilih undur diri dari kampus karena tidak mampu mengenyam biaya kuliah. Lalu apa yang menyebabkan UKT ini seringkali naik setiap tahunnya?

Dalam sistem kapitalisme-sekuler seperti yang diterapkan saat ini, maka tidak ada jaminan pemenuhan kebutuhan dasar hidup secara penuh. Imbasnya pemenuhan kebutuhan dasar seperti pendidikan maupun kesehatan harus dipikul sendiri oleh masyarakat. Jikapun ada jaminan maka itu hanya dikhususkan bagi mereka yang terkategori miskin serta memenuhi syarat-syarat administrasi yang telah ditentukan. Maka kita temui hanya pendidikan dasar dan menengah saja yang menjadi kewajiban bagi negara, sedang perguruan tinggi bukanlah menjadi sebuah keharusan.

Sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan yang dijadikan sebagai asas dalam mengatur kehidupan bermasyarakat negeri ini. Maka lumrah jika pengaturan kehidupan manusia diberikan kepada manusia itu sendiri, termasuk dalam hal membuat hukum. Terkait dengan pendidikan, sistem sekuler memandang itu sebagai jalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Imbasnya pendidikan hari ini menjadi bahan untuk dikomersialisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *