Opini

UKT Semakin Fantastis, Gratis Pendidikan Hanya Mengkhayal Saja

81
×

UKT Semakin Fantastis, Gratis Pendidikan Hanya Mengkhayal Saja

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dwi (guru)

Perbincangan hangat tentang pendidikan gratis dan terjangkau. slogan pendidikan gratis yang sering digembar- gemborkan para pemimpin di negeri ini, ternyata hanya mimpi saja..
Dan ternyata hanya manis dibibir saja. Jangankan murah , apalagi gratis, kenyataannya bahwa biaya pendidikan hari ini justru makin fantastis (mahal). Salah satunya biaya uang kuliah tunggal (UKT) yang banyak dikeluhkan para mahasiswa karena dinilai makin mahal dan fantastis.. sehingga memberatkan orang tua. Hal ini menjadikan fakta bahwa menempuh pendidikan tinggi di zaman sekarang seperti teristimewa tersendiri.

Jakarta, CNN Indonesia Polemik kenaikan uang kuliah tunggal ( UKT) terjadi di sejumlah perguruan tinggi ( PTN) , seperti di universitas jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Negeri Riau (Unri) hingga Universitas Sumatra Utara (USU) Medan.
Plt sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Tjitjik Sri Tjahjandarie membantah saat ini ada kenaikan UKT. Menurutnya, bukan UKT- nya yang naik, tetapi kelompok UKT- nya yang bertambah.

Seperti dialami salah satu mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi ternama saat pendaftaran ulang mahasiswa baru seleksi nasional berbasis prestasi (SNBP) tiba. Salah satu yang menjadi permasalahan adalah UKT, sebab didaftar UKT Unsoed seperti yang beredar di media sosial X senilai Rp 9,5 juta untuk jurusan Hukum golongan lima. Sedangkan UKT tertinggi, adalah golongan 8 senilai 14,5 juta rupiah. UKT tertinggi untuk jurusan hukum tahun 2023 lalu adalah sekitar Rp 7 jutaan.(detik news.com, 24/4/2024).

Kenyataannya menunjukkan bahwa ketika ingin kuliah melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi harus merogoh kantong yang dalam, jika tidak maka jangan harap untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. terang saja hal ini membuyarkan pandangan kepada perguruan tinggi yang menjadi sumber inspirasi, ilmu dan penghasil para ilmuwan, generasi pemimpin, generasi pemikir yang cerdas, bergeser menjadi pandangan yang materialistik.
Kita harus mengetahui, semua ini dampak dari kebijakan pemerintah terkait liberalisasi dan swastanisasi bidang pendidikan . Pemerintah secara perlahan lahan langsung melepaskan tanggung jawabnya dan menyerahkan kepihak swasta ( kebijakan transportasi PTB menjadi PTN-BH). Serta, tidak lepas dari peran Indonesia yang telah melakukan perjanjian General Agreement on Trade in Services ( GATS) yang di aruskan oleh organisasi perdagangan Dunia ( WTO). Hal itu menjadikan sektor pendidikan yang merupakan bagian dari kebutuhan publik malah diperdagangkan.
Pada akhirnya kampus dituntut untuk mencari dana sendiri dalam mengelola operasionalnya. Salah satu sumber mencari dana yang paling mudah dengan menetapkan tarif UKT yang melangit. Sehingga hanya orang-orang yang mampu saja yang bisa menikmati pendidikan yang tinggi dan fasilitas pendidikan yang mumpuni. Adanya berbagai program beasiswa serta kartu Indonesia pintar kenyataannya tidak mampu menyelesaikan problematika ini. Kalaupun ada beasiswa yang menanggung 100% biaya UKT, tidak terlepas dari berbagai macam syarat, seperti misalnya mahasiswa tersebut selesai dari kuliahnya dan lulus maka dia harus bekerja di perusahaan yang telah memberikan beasiswa kepada pihak kampus.
Inilah letak krusialnya, mahasiswa akhirnya dengan keilmuannya dieksploitasi untuk menjadi budak perusahaan, keilmuan yang didapat bukan untuk menyelesaikan problematika umat namun orientasi pendidikan hanya berkutat pada materi.
Jangan sampai generasi hari ini potensinya dibajak oleh sistem kufur kapitalisme.
Mereka adalah generasi muda aset peradaban di masa-masa depan.

*Kapitalisme, Biangnya*

Berbagai kerusakan yang menimpa umat ini tidak lepas dari ideologi kapitalisme yang mendominasi dunia. Masyarakat, termasuk pemimpinnya, jauh dari Islam dan lebih mengejar dunia serta tak takut akhirat.
Dengan prinsip sekularisme- liberalisme , mereka bertindak semaunya tanpa mau terikat dengan aturan sang pencipta.
Malah, mereka memusuhi aturan-aturan yang datang dari Tuhan.
Sistem buatan manusia ini menghasilkan sekelompok kecil orang yang sukses — secara materi– dan mengorbankan sebagian besar rakyat Gap antara kaya dan miskin kian menganga dan tak teratasi. Berbagai gejolak sosial tak terelakkan, di seluruh dunia. Kalaupun masih ada yang belum bergejolak itu hanya soal tunggu waktu saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *