Opini

UKT Naik, Mahasiswa Tercabik

149

Oleh Suci Halimatussadiah
(Ibu Pemerhati Masyarakat)

 

Miris menyaksikan fakta hari ini. Hidup yang sulit diperparah dengan kenaikan biaya pendidikan hingga terasa makin mencekik. Dunia pendidikan Indonesia pun diwarnai gelombang protes mahasiswa imbas kenaikan UKT (Uang Kuliah Tunggal) di sejumlah PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Polemik kenaikan UKT untuk golongan tertentu sempat ramai di beberapa kampus, seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Sumatera Utara (USU), dan masih banyak lagi.

Dikutip dari media online Kompas (12/5/2024), berdasarkan keputusan rektor, biaya UKT tertinggi di UI sebesar Rp20 juta untuk Prodi Pendidikan Dokter, Kedokteran Gigi, Ilmu Keperawatan, dan Farmasi. Selain itu, uang pangkal (IPI/Iuran Pengembangan Institusi) terbesar di UI mencapai Rp161 juta untuk mahasiswa sarjana dan vokasi jalur seleksi mandiri Pendidikan Kedokteran, padahal pada ajaran 2023/2024, angka IPI terbesar mencapai Rp40 juta pada Fakultas Ilmu Komputer.

Menanggapi fakta di atas, publik mulai menyoroti kenaikan biaya operasional kuliah di UI yang dinilai makin membebani mahasiswa. Kenaikan biaya kuliah di pendidikan tinggi negeri dinilai bertentangan dengan konstitusi Indonesia, yakni salah satu amanatnya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bukankah untuk mewujudkan amanat negara yang tertuang dalam UUD tersebut harus melalui program pendidikan berkualitas yang berbiaya murah? Bukan malah sebaliknya, generasi bangsa dibebani dengan aneka biaya UKT, menarik biaya uang pangkal masuk, uang bangunan, dan semacamnya yang jelas-jelas akan memberatkan masyarakat.

PTN yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara justru dinilai membebani rakyat. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak serius menjalankan amanat konstitusi, yakni memberikan akses pendidikan kepada seluruh masyarakat.

Realitasnya, pendidikan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang sanggup untuk membayar mahalnya biaya pendidikan saja, padahal dampak dari kenaikan UKT begitu sangat memberatkan masyarakat. Bahkan, banyak anak-anak yang terpaksa tidak bisa melanjutkan kuliah/pendidikan akibat kemiskinan.

Parahnya lagi, biaya UKT yang mahal ternyata tidak menjamin kualitas pendidikan yang bermutu. Banyak sekali ditemukan fasilitas pendidikan di PTN yang jauh dari kata layak, misalnya ruang kelas yang sudah tua, fasilitas laboratorium yang tidak memadai, bahkan ada yang tidak mempunyai ruang kelas untuk belajar.

Kenaikan biaya UKT bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan. Polemik ini sudah terjadi kesekian kalinya di berbagai kampus penjuru negeri akibat adanya kapitalisasi pendidikan.

Berdasarkan survei terhadap 722 mahasiswa angkatan 2023, sebanyak 70,7% merasa terbebani dengan UKT yang mahal, dan 52,1% mengajukan peninjauan kembali UKT. Bahkan, agar tetap kuliah, 93 mahasiswa berusaha mencari beasiswa, 65 mahasiswa mencari pinjaman, dan 34 mahasiswa terpaksa menggadaikan atau menjual barang berharganya (Tempo, 2/5/2024)

Exit mobile version