Opini

UKT MAHAL, BUKTI PENDIDIKAN DIKOMERSILKAN

99
×

UKT MAHAL, BUKTI PENDIDIKAN DIKOMERSILKAN

Sebarkan artikel ini

Oleh: Sri Wijayanti Spd.i

 

Hampir seluruh kampus melakukan demonstrasi penolakan kenaikan UKT yang hampir 5 kali lipat dari biaya sebelumnya. Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melakukan protes terhadap kenaikan UKT yang dinilai memberatkan bagi mahasiswa di Tanah air. BEM SI dan komisi X DPR berkoordinasi dengan Kementerian pendidikan, kebudayaan riset dan teknologi (Kemendikbud Ristek ) Prof.Abdul Haris, Meminta untuk meninjau kembali Permendikbud Nomor 2 Tahun 2024 yang mengatur satuan Operasional Pendidikan Tinggi yang menjadi dasar bagi perguruan tinggi untuk menaikkan uang kuliah tunggal (UKT).Ayo Bandung.com.19/05/2024.

Begitu juga mahasiswa USU melakukan unjuk rasa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) USU telah berdiskusi dengan rector kampus , Muryanto Amin, guna membahas persoalan kenaikan uang kuliah tunggal (UKT) di gedung DLCB kampus USU meminta Rektor USU menjamin tidak ada calon mahasiswa baru 2024 yang gagal masuk USU karena masalah UKT.Tempo.com.17/05/2024
Sementara itu di Universitas Riau (UNRI) Sekitar 50 orang calon mahasiswa baru yang lolos seleksi Nasional berdasarkan prestasi (SNBP) memutuskan mundur dari Universitas tersebut karena merasa tidak sanggup untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT). Kompas.com20/05/2024.
Namun sayang, mahalnya UKT direspon enteng oleh direktur jenderal pendidikan tinggi Kementerian pendidikan , kebudayaan riset dan teknologi (Kemendikbud Ristek ) Prof.Abdul Haris dengan mengatakan “sebenarnya calon mahasiswa bisa mengajukan keringanan UKT ke pihak kampus”. Seolah sesederhana itu solusi yang dapat dilakukan mahasiswa ketika menghadapi ukt yang sangat mahal. Faktanya tetap biaya kuliah tak dapat didapatkan dengan harga yang murah apalagi gratis.

Bahkan solusi yang ditawarkan pemerintah dalam menanggapi mahalnya UKT yang tidak mampu dibayar mahasiswa dengan menawarkan pinjaman online secara resmi melalui Danacita dengan bunga sekitar 1,75 % flat per bulan, setara 21% pertahun. Justru ini bukanlah solusi tetapi malah berpotensi menjebak mahasiswa kedalam lingkaran utang akibat bunga pinjaman yang sangat tinggi.

Sungguh ironis solusi yang ditawarkan. Alih-alih menyelesaikan, tapi justru semakin menyesatkan. Bagaimana tidak, mahasiswa yang tidak mampu membayar uang kuliah bukanya diberi biaya gratis , tetapi hanya diberi pinjaman dengan bunga tinggi. Yang namanya pinjaman tetap wajib dibayar, padahal masalahnya mahasiswa ingin belajar tetapi tidak punya biaya. Ditambah lagi pinjaman dengan bunga meski dikatakan sangat rendah, tetap saja haram bunga pinjaman bagi stiap muslim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *