Opini

Turunkan Angka Stunting dengan Gagas PMT, Solutifkah?

41
×

Turunkan Angka Stunting dengan Gagas PMT, Solutifkah?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Reshi Umi Hani

 

Meningkatnya prevalensi stunting di Bontang menjadi atensi tersendiri bagi pemerintah daerah. Sejumlah upaya pun bakal dilakukan. Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Bontang Dasuki mengatakan, penanganan stunting bakal dilakukan by data. Selanjutnya, pihaknya turut mengagas pemberian makanan tambahan (PMT) yang dilakukan oleh seluruh aparatur sipil negara (ASN).

Stunting adalah indikator tinggi badan menurut umur dan akhirnya berdampak pada rendahnya kemampuan anak untuk belajar, keterbelakangan mental, dan munculnya penyakit kronis yang lebih mudah masuk ke tubuh anak.
Stunting sendiri jelas-jelas merupakan indikator buruknya kuantitas dan kualitas pangan pada anak. Tingkat stunting semakin tinggi dan pencarian solusi pemerintah pun tidak kendur dan lintas sektor. Salah satunya dengan program pemberian makanan tambahan (PMT) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita.

PMT yang dilakukan ASN sebenarnya bukan solusi tepat, karena banyak faktor penyebab stunting. PMT dapat dikatakan hanyalah solusi parsial dari permasalahan stunting, sebab tumbuh kembang dan pemenuhan gizi anak tentunya berkaitan dengan banyak aspek, yang membentuk suatu sistem yang saling terhubung dari hulu ke hilir.
Meskipun secara umum tergambar bahwa upaya dan program pemerintah—misalnya program Akses Pencarian Pengobatan Balita Sakit, Pemberian Makanan Tambahan Balita dan Ibu Hamil, Akses Sanitasi Layak, Ketahanan Pangan Balita dan Keluarga—ternyata memadai dan berhasil. Namun, jika ditelaah lebih dalam, sebenarnya ada yang mengkhawatirkan karena angka underweight (berat badan menurut umur) dan wasting (berat badan menurut tinggi badan) justru naik.

Setidaknya terdapat empat faktor penyebab stunting selain gizi buruk. Pertama, praktik pengasuhan kurang baik. Kedua, terbatasnya layanan kesehatan selama masa kehamilan ibu. Ketiga, kurangnya akses keluarga ke makanan bergizi. Keempat, terbatasnya akses ke air bersih dan sanitasi.

Oleh karena itu, sebelum bicara penurunan stunting, kita harus mencermati akar munculnya gizi buruk, sanitasi buruk, infrastruktur kesehatan yang kurang memadai, pendidikan atau literasi rendah, dan sebagainya.
Meski antara kemiskinan dan stunting tidak selalu berkorelasi, kondisi ekonomi keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan lebih rentan dan berisiko mengalami stunting. Kemiskinan sangat erat kaitannya dengan pemenuhan gizi dan nutrisi seimbang bagi ibu dan bayi dengan harga terjangkau, akses dan layanan kesehatan, serta sanitasi yang layak dan air bersih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *