Opini

Tragedi Pembunuhan Mahasiswa STIP, Buah Penerapan Pendidikan Sekuler?

111
×

Tragedi Pembunuhan Mahasiswa STIP, Buah Penerapan Pendidikan Sekuler?

Sebarkan artikel ini

Oleh. Mila Ummu Al

Pembunuhan yang terjadi di STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) pada 3 Mei lalu, telah menambah buruk wajah dunia pendidikan hari ini. Jelas saja, kasus ini akan membuat para orang tua merasa pilu dan bertambah was-was. Sebegitu parahkah ancaman dunia pendidikan sehingga nyawa tampak begitu murah?

Selain kasus penganiayaan dan pembunuhan terhadap mahasiswa STIP Jakarta, kasus serupa telah berulangkali terjadi di lingkungan pendidikan Indonesia. Misalnya saja, kasus penganiayaan yang berujung kematian di kampus IPDN (Institusi Pemerintah Dalam Negeri) pada 3 April 2007. Kemudian, kasus kematian mahasiswa STIP Jakarta Utara yang terjadi pada 10 Februari 2017 lalu. Selain itu, kita juga pernah mendengar kasus tewasnya mahasiswa akibat dianiaya di kampus AKTP (Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan) Makassar pada 3 Februari 2019 lalu. (Tempo.co, 9/5/2024)

 

Peristiwa pembunuhan ini layak menjadi perhatian negara. Sebab penganiayaan dan pembunuhan yang terjadi di lingkungan pendidikan tinggi hanya menambah daftar panjang kesemrawutan upaya pemerintah mengakhiri kasus kejahatan yang terus meningkat di negeri ini.

Cerminan Pendidikan Sekuler

Tragedi pembunuhan yang terjadi di sebuah sekolah tinggi merupakan kondisi yang sangat ironis. Apalagi di tengah gegap gempitanya pemberlakuan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) dengan program lanjutannya yang bernama Kampus Merdeka.

Melihat maraknya kasus pembunuhan yang terjadi di lembaga pendidikan membuat kita patut mempertanyakan keefektifan program MBKM yang diklaim dapat memberikan pengalaman kehidupan kampus yang lebih mahasiswa. Benarkah program ini dibutuhkan oleh mahasiswa di tengah keterpurukan sistem kehidupan saat ini? Terlebih kita tahu bahwa sistem pendidikan sekuler sejatinya hanya berorientasi pada dunia kerja (kebutuhan dunia industri), namun tak berdaya menangani beban dan biaya hidup mahasiswa yang begitu berat.

Akibat orientasi pendidikan sekuler yang salah inilah, kurikulum apapun yang digagas pemerintah tidak mampu membentuk mahasiswa yang memahami cara hidup dengan benar. Tak heran jika mahasiswa banyak yang bermain kripto dengan bermodalkan pinjol, terjerat narkoba, pergaulan bebas, bahkan tega menghabisi nyawa manusia akibat hal sepele. Tentu saja, ini bukan karakter yang diharapkan dari sebuah perguruan tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *