Opini

Tawuran Cari Cuan, Generasi Kian Meresahkan

82
×

Tawuran Cari Cuan, Generasi Kian Meresahkan

Sebarkan artikel ini

Tawuran yang kian mengerikan dan meresahkan ini sejatinya satu gambaran kegagalan sistem pendidikan sekuler dalam mencetak generasi berkualitas. Sistem yang menjauhkan agama dari kurikulumnya ini telah menjadikan generasi muda tumbuh tanpa iman dan takwa.

Energi besar yang dimiliki kaum muda nyatanya mengalir pada aktivitas-aktivitas yang tidak berguna. Tawuran bukanlah satu-satunya kenakalan remaja yang lahir dari rahim sistem pendidikan sekuler. Di luar sana marak juga pergaulan bebas, aborsi, geng motor, narkoba hingga kenakalan/kejahatan remaja, semua tumbuh subur bak jamur pada musim hujan.

Sistem pendidikan sekuler yang hanya berorientasi akademik juga menyebabkan para peserta didik fokus pada dirinya sendiri. Dogma atas “nilai yang bagus agar bisa bekerja di tempat bonafide” sudah terlalu mengakar, tanpa peduli caranya halal atau haram. Semua itu mereka lakukan hanya demi capaian materi. Itulah gambaran kebahagiaan yang terus ditanamkan pada pelajar.

Lebih parahnya lagi, sistem pendidikan sekuler telah gagal menanamkan tujuan hidup pada seseorang. Akibatnya, para pelajar tidak memiliki tujuan kuat di balik fitrah penciptaan mereka. Kondisi ini menjadikan para pelajar mudah stres dan gamang dalam menghadapi persoalan hidup. Banyak pelajar yang juga terserang kesehatan mentalnya sehingga mereka mudah terbawa pada arus negatif, termasuk tawuran.

Jauhkan Tawuran dengan Islam

Agar pemuda mampu menyalurkan kekuatan dan segala potensinya sebagai agen perubahan serta anti tawuran, kepribadian Islam harus dilahirkan di benak setiap individu. Kepribadian Islam hanya akan terwujud melalui sistem yang menggunakan agama sebagai pedoman dan tidak memisahkannya dari peraturan kehidupan yakni sistem Islam.

Islam memiliki sistem pendidikan terbaik berbasis akidah Islam yang terbukti berhasil melahirkan generasi berkualitas yang menjadi agen perubahan dan membangun peradaban yang mulia. Dalam hal ini, negara memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkannya.

Tujuan pendidikan yang ingin diraih yaitu mewujudkan kepribadian Islam agar setiap peserta didik memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Dalam Islam pun ilmu dan tsaqofah yang dipelajari untuk diamalkan bukan hanya sekedar teori belaka. Sehingga generasi yang lahir memiliki akidah dan iman yang kokoh, tidak mudah terbawa arus, kepribadian islam yang menancap kuat serta mumpuni dan cerdas di bidang-bidang keilmuannya.

Sistem sanksi yang memberi efek jera akan diterapkan pula oleh negara. Setiap remaja baligh saat terbukti melanggar peraturan, akan dihukum sesuai jenis pelanggarannya. Misalnya terdapat sanksi qishas yang nantinya akan diberikan saat seseorang terbukti melukai dan membunuh orang.

Melalui penerapan syariat islam secara total inilah, kekuatan dan segala potensi pemuda akan dibina dan dimaksimalkan untuk Allah dan agama Islam. Melahirkan generasi terbaik pembangun peradaban mulia. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *