Opini

TAPERA Bikin Sejahtera Atau Sengsara?

96
×

TAPERA Bikin Sejahtera Atau Sengsara?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Lisa Oka Rina
Pemerhati Kebijakan Publik

 

Polemik Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera ) terus bergulir setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi meneken Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2024 tentang Tapera. Gelombang penolakan terus terjadi, lantaran PP tersebut akan mewajibkan perusahaan memotong gaji pekerja swasta .

Nantinya para karwayan bakal mendapatkan potongan gaji sebesar 3% sebagai iuran Tapera, dengan rinciannya 2,5% ditanggung pekerja dan 0,5% menjadi tanggung jawab perusahaan pemberi kerja. Kewajiban iuran Tapera diyakini bakal menambah beban kelas menengah di Indonesia, lantaran daftar potongan gaji yang diterima karyawan semakin panjang.
(SINDOnews.com,30 Mei 2024)

Penetapan iuran Tapera 2,5% yang dibebankan kepada pekerja dan 0,5% kepada pemberi kerja/majikan, sesungguhnya hal itu adalah kebijakan yang zolim. Karena para pekerja mendapat tagihan baru diluar BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, di saat harga bahan pokok, tagihan air PDAM, pendidikan, hingga BBM sudah mengalami kenaikan. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Keputusan untuk memberikan sanksi kepada pemberi kerja dan pekerja bila terlambat membayar iuran Tapera, jelas nyata menunjukkan bahwanya iuran tersebut bersifat paksaan. Sama sebenarnya seperti iuran BPJS kesehatan. Lagi-lagi yang terjadi adalah kezoliman kepada rakyat. Kebijakan membebankan 0,5% kepada pemberi kerja pun adalah sebuah kezoliman. Dan hal ini sama saja artinya memberikan beban kepada majikan untuk menanggung dan menjamin ketersediaan dan kesejahteraan pekerja. Dan ini pasti akan berimbas kepada naiknya harga barang dan jasa yang dihasilkan pengusaha karena mereka tidak akan mau mengurangi kadar keuntungan perusahaan mereka.

Ini semua adalah buah pahit penerapan sistem ekonomi kapitalisme, beserta turunan sistem kehidupan yang lainnya yakni kehidupan sekulerisme. Karena dalam pandangan kapitalisme, aturan kehidupan tidak boleh disandarkan dengan agama. Sehingga aturan kehidupan lahir dari pemikiran/akal manusia. Padahal sejatinya akal manusia itu lemah dan tidak paham akan hakikat kebaikan untuk manusia itu sendiri. Akal pikiran manusia satu dengan yang lain pun juga sering berbeda bahkan saling bertetangan dan bersebrangan. Hal ini karena juga dipengaruhi oleh kepentingan manusia/invidu per individu.

Itulah kenapa aturan itu harus minim dari kepentingan individu per individu. Karena tidak bisa disamaratakan. Dan hal ini sudah ditunjukkan dan diarahkan oleh Islam, satu-satunya agama yang memiliki dan memuat aturan-aturan kehidupan, baik terkait mengatur ibadah maupun aturan kehidupan antara satu manusia dengan manusia yang lain semisal terkait akhlak, sistem sanksi, sistem pergaulan, sistem pendidikan, sistem kesehatan¬† bahkan aturan berekonomi, politik dalam negri maupun politik luar negri dalam suatu negara. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman : “…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu. Telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu..” (TQS Al-Maidah ayat 3). Ulama tafsir menafsirkan telah disempurnakan islam artinya islam tidak hanya agama ritual semata namun juga agama yang mengatur aturan kehidupan yang lain, seperti aturan berekonomi, politik, pendidikan, pergaulan, sanksi dan sebagaimana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *