Opini

Suburnya Penistaan Agama Dalam Sistem Sekularisme

84
×

Suburnya Penistaan Agama Dalam Sistem Sekularisme

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nia Umma Zhafran

 

Kasus penistaan agama kembali berulang. Dilansir dari Tribunjakarta.com (17/05/2024), Kepala Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X Merauke Asep Kosasih yang bersumpah sambil menginjak Al-Qur’an hanya untuk membuktikan kepada istrinya jika dirinya tidak selingkuh. Selain penistaan agama, Asep diduga telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Meningkatnya kasus penistaan agama membuktikan bahwa masyarakat tidak menyadari kepentingan dalam menjaga kemuliaan agama. Yang nampak agama justru hanya simbol atau sebagai bahan olokan yang bisa direndahkan kapan saja dan semaunya. Perilaku penistaan itu bisa tumbuh subur karena sistem kehidupan saat ini, yakni sistem sekulerisme.

Sistem Sekulerisme membuat agama dipisahkan dari kehidupan. Agama tidak lagi menjadi tolak ukur berpikir dan standar berperilaku seseorang. Akhirnya manusia merasa bebas untuk melakukan segala hal yang ingin dilakukan semaunya. Dan semua itu semakin kokoh karena adanya sistem Demokrasi yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Ditambah lagi sistem sanksi bagi penista agama begitu lemah dan tidak menjerakan.

Hukuman bagi para penista agama hanya sekedar dipenjara. Setelah dipenjara, para penista bisa berulang melakukan tindakan serupa. Bahkan menjadi inspirasi atau tuntunan bagi yang lain untuk melakukan hal yang sama. Penistaan agama yang terus berulang membuktikan bahwa umat Islam tidak terlindungi dalam sistem sekulerisme. Umat Islam hanya akan terlindungi ketika umat Islam berada dalam sistem Islam dibawah naungan Khilafah Islamiyyah. Karena, hanya Khilafahlah perisai sejati umat Islam.

Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya al-imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang dibelakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. ” (HR. Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan lain-lain)

Sepanjang sejarah dalam Daulah Khilafah Islamiyyah berdiri, Khilafah menjadi garda terdepan dalam melindungi rakyatnya dari penghinaan atau penistaan agama dan menjaga akidah umat agar tetap lurus. Salah satu buktinya adalah adalah sikap tegas Sultan Abdul Hamid II (1876-1918)kepada Prancis yang akan menggelar teater karya Voltaire. Drama yang bertajuk “Muhammad atau Kefanatikan” berisi penghinaan kepada Rasul. Sultan Hamid mengultimatum Prancis jika tidak membatalkan drama itu, Prancis akan merasakan bahaya politik yang akan dihadapinya. Kemudian orang-orang teater itu mengunjungi Inggris untuk merancang pementasan serupa. Ketika Sultan Hamid mengetahui hal ini, beliau memberi ultimatum kepada Inggris sebagaimana ultimatum terhadap Prancis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *