Opini

Study Tour Sampai Nyawa Gugur, Rakyat Butuh Jaminan Keselamatan

71
×

Study Tour Sampai Nyawa Gugur, Rakyat Butuh Jaminan Keselamatan

Sebarkan artikel ini

Oleh Ana Ummu Rayfa

Aktivis Muslimah

Polemik yang ramai diperbincangkan saat ini datang dari dunia pendidikan. Seperti yang sudah diagendakan setiap tahunnya, setiap akhir tahun ajaran (kelulusan), sekolah-sekolah di Indonesia mengadakan perjalanan wisata bersama para siswanya, baik itu di dalam kota maupun ke luar kota. Polemik muncul tatkala terjadi kecelakaan bus yang ditumpangi siswa SMK Lingga Kencana Depok di Ciater, Subang. Tercatat kecelakaan menelan korban meninggal 11 orang dan 32 orang mengalami luka ringan dan berat. Menurut penyidikan diketahui bahwa kecelakaan bus disebabkan karena rem blong.

Tidak pernah terlintas di benak siapapun, study tour yang diniatkan sebagai acara perpisahan kelulusan menjadi perpisahan selamanya. Tidak dipungkiri bahwa kecelakaan bahkan kematian adalah ketetapan Allah. Tetapi, tentu peristiwa ini harus menjadi perhatian bagi pihak-pihak terkait agar tidak terulang di kemudian hari. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian dalam kasus ini. Dilihat dari transportasi sendiri, ternyata bus yang digunakan SMK Lingga Kencana Depok ternyata tidak layak jalan, karena tidak ada surat izin angkutan dan status lulus uji berkala yang kadaluwarsa. Armada yang tidak layak seperti ini ditawarkan dengan harga murah pada masyarakat, sehingga masyarakat termasuk pihak pendidikan tentu memilih harga yang murah untuk menekan biaya yang harus dikeluarkan.

Miris memang, karena perusahaan transportasi tidak mempertimbangkan masalah keselamatan dalam usahanya. Inilah akibat dari diterapkannya sistem kapitalis, di mana perusahaan transportasi mengutamakan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Yang menjadi korban tentu konsumen yang tidak mengerti dan mempercayakan perjalanannya pada perusahaan transportasi ini. Selain itu, patut juga dipertanyakan, di mana peran negara yang mempunyai kewenangan dalam pengecekan kondisi transportasi di Indonesia? Ditjen Perhubungan Darat di bawah Kementrian Perhubungan yang berwenang melakukan pengecekan berkala kendaraan ternyata banyak dikeluhkan masyarakat karena mahalnya biaya dan rumitnya administrasi. Hal ini dijadikan alasan oleh para pemilik kendaraan untuk tidak memperbarui kelayakan transportasinya.

Dari semua hal di atas, terlihat jelas bahwa saat ini tidak ada jaminan keselamatan transportasi yang dapat membuat masyarakat merasa tenang dalam melaksanakan aktivitasnya, termasuk kegiatan study tour. Uji kelayakan kendaraan yang seharusnya menjadi jaminan keselamatan masyarakat, justru menjadi lahan pemerintah untuk mengeruk keuntungan dengan mematok biaya tinggi. Sistem kapitalis memosisikan negara sebagai pedagang yang menginginkan keuntungan dari rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *