Opini

Remisi Bukti Lemahnya Aturan Sistem Kapitalis

64
×

Remisi Bukti Lemahnya Aturan Sistem Kapitalis

Sebarkan artikel ini

Oleh Suci Halimatussadiah
Ibu Pemerhati Masyarakat

Idulfitri menjadi saat yang dinanti dan menjadi kegembiraan tersendiri bagi para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Pasalnya, negara memberikan remisi atau pemotongan masa tahanan khusus hari raya bagi sejumlah narapidana yang memenuhi syarat. Sebanyak 5.931 warga binaan di sejumlah lembaga permasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) di Sulawesi Selatan mendapatkan remisi khusus Idulfitri sebanyak 14 orang di antaranya langsung bebas. (media online ccnIndonesia.com, 11/04/2024)

Sementara itu, narapidana kasus korupsi pun mendapat remisi pada momen Lebaran tahun ini, seperti terpidana kasus korupsi e-KTP Setya Novanto. Ia kembali mendapat remisi khusus Hari Raya Idulfitri 1445 Hijriah. Mantan Ketua DPR RI itu mendapat diskon masa tahanan bersama 240 narapidana korupsi lainnya di Lapas Sukamiskin, Bandung. (media online tempo.co, 12/04/2024)

Mampukah berbagai aturan yang ada menekan angka kejahatan?

Remisi atau pemotongan masa tahanan telah lama diberlakukan di negeri ini. Namun, adanya remisi bagi narapidana nyatanya tidak mampu memberikan efek jera bagi pelakunya. Sebaliknya, remisi menjadi bukti lemahnya sistem sanksi yang diterapkan. Sebab, pemberian remisi bisa berimbas pada hilangnya rasa takut pelaku dalam melakukan kejahatan. Maka, tidak heran jika angka kejahatan makin meningkat.

Di sisi lain, sanksi pidana yang diterapkan saat ini tidak mampu menghentikan kejahatan yang ada. Sebab, sistem pidana yang menjadi rujukan bersifat tidak baku sehingga aturan yang ada bisa berubah kapan pun. Ini terjadi karena sistem yang diterapkan merupakan hukum buatan manusia. Keterbatasan akal yang dimiliki manusia menjadikan aturan yang dibuatnya tidak mampu menciptakan keadilan bagi semua, apalagi hawa nafsu dan berbagai kepentingan memungkinkan untuk memengaruhi proses pembuatan hukum yang ada.

Lemahnya sanksi yang ada diakibatkan oleh sistem sekularisme, yakni sistem yang memisahkan agama dari kehidupan sehingga membuat manusia bertindak sebagai pembuat hukum tanpa peduli dengan perintah maupun larangan agama. Sekularisme pun menimbulkan lemahnya keimanan individu sehingga manusia mudah terjerumus untuk melakukan tindak kejahatan. Tingginya angka kejahatan tidak hanya menandakan lemahnya sistem sanksi dan lemahnya iman, tetapi menandakan kesejahteraan rakyat yang belum terpenuhi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *