Opini

REALITA PENDIDIKAN YANG MEWAH UNTUK INDUSTRI YANG MEGAH

99
×

REALITA PENDIDIKAN YANG MEWAH UNTUK INDUSTRI YANG MEGAH

Sebarkan artikel ini

By : Tia

 

Saat ini, menghadapi realita. Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Universitas Negeri Riau (Unri) hingga Universitas Sumatera Utara (USU) Medan melakukan protes terhadap kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Para mahasiswa Unsoed misalnya memprotes lantaran ada kenaikan uang kuliah hingga lima kali lipat.

Terkait hal ini, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek Tjitjik Sri Tjahjandarie menanggapi
“Dari sisi yang lain kita bisa melihat bahwa pendidikan tinggi ini adalah tertiary education. Jadi bukan wajib belajar. Artinya tidak seluruhnya lulusan SLTA, SMK itu wajib masuk perguruan tinggi. Ini sifatnya adalah pilihan, Siapa yang ingin mengembangkan diri masuk perguruan tinggi, ya itu sifatnya adalah pilihan, bukan wajib,” kata Tjitjik di Kantor Kemendikbud, Rabu (16/5/2024).

Dikatakan bahwa kuliah adalah pendidikan pilihan yang tidak diwajibkan bagi rakyat, secara tidak langsung peluang untuk generasi bisa cerdas tertutup beberapa persen karena persoalan biaya. Meskipun tidak dipungkiri perkuliahan memang bukan mutlak satu-satunya yang membuat kecerdasan, bahkan lulusan SMA saja misalnya, bisa jadi lebih cerdas daripada sarjana. Akan tetapi dalam hal ini, mari bicara soal kesempatan dan keadilan yang selalau diagung-agungkan.

“Apa konsekuensinya karena ini adalah tertiary education? Pendanaan pemerintah untuk pendidikan itu difokuskan, diprioritaskan, untuk pembiayaan wajib belajar,” ujarnya.
Dua belas tahun bersekolah rasanya belum tentu cukup mengisi perbekalan secara akademik dan kemampuan untuk tuntutan bersaing dengan ratusan juta pemburu lapangan kerja setiap tahunnya.

Jika ditarik kesimpulan, hal ini bahkan dapat menyebabkan “kemiskinan” secara beruntun dan turun temurun. Konsep pendidikan yang tidak merata, tapi realita di lapangan begitu tidak adil, ketersediaan lapangan kerja mendominasi untuk para sarjana. Pahitnya, bahkan banyak sarjana pun tidak memiliki pekerjaan atau bekerja tidak sesuai bidangnya, sungguh tidak ada gambaran keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *