Opini

QURBAN DAN KESHOLIHAN SOSIAL

82
×

QURBAN DAN KESHOLIHAN SOSIAL

Sebarkan artikel ini

By : Fitria A

Setiap tahunnya Bulan Dzulhijah menjadi bulan spesial bagi umat Islam. Di bulan ini jutaan umat muslim sedunia melaksanakan ibadah haji di tanah suci Makkah al Mukaromah. Sementara umat Islam yang tidak berhaji menyambut bulan dzulhijah yang istimewa ini dengan melaksanakan ibadah-ibadah nafilah. Dengan banyak bersedekah, tilawah Al Qur’an, sholat sunah, puasa dan memperbanyak dzikir. Kemudian puncaknya adalah berqurban pada 10 dzulhijah.

Berqurban memang hukumnya tidak wajib. Jumhur ulama menyampaikan bahwa hukumnya adalah sunah muakadah. Diantaranya adalah Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak akan berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih).

Dari tahun ke tahun kesadaran mengenai keutamaan berqurban ini semakin besar dan semakin meluas. Termasuk juga di kalangan publik figur sehingga semakin memotivasi khalayak masyarakat Islam.
Jika diperhatikan sangat banyak sekali hukum syariat Islam yang erat kaitannya dengan kesholihan sosial. Termasuk di dalamnya adalah berqurban. Seruan untuk berqurban pada yang mempunyai kemampuan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi umat Islam yang bisa jadi makan daging hanya setahun sekali saat idul qurban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *