Opini

Perempuan Korban PMI Ilegal

107
×

Perempuan Korban PMI Ilegal

Sebarkan artikel ini

By : Nur Inayah

Sungguh sangat memprihatinkan sekali, pasalnya dua warga Cileunyi, Kabupaten Bandung terkatung-katung di negeri orang setelah menjadi korban penipuan penyalur Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal. Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Cileunyi, Yudistira, mengatakan bahwa dua warga Cileunyi tersebut bernama Lilis Ule dan Rosita warga Desa Cileunyi Wetan. “Keduanya saat ini terkatung-katung di Dubai dan Irak,” ucap Yudistira ketika dihubungi, Selasa 4 Juni 2024.

Menurut Yudistira, kedua orang tersebut pada mulanya ditawari oleh seseorang yang mengaku dari perusahaan penyalur PMI. Baik Lilis maupun Rosita mendaftar sebagai ART dengan penempatan masing- masing di Abu Dhabi. Kedua PMI tersebut menginginkan pulang ke kampung, namun terbentur masalah administrasi dan ongkos untuk bisa kembali ke tanah air.

Fakta tersebut hanya segelintir permasalahan yang sudah sangat sering terjadi menimpa para pekerja migran ini, mulai dari gaji yang tidak dibayar, PMI gagal berangkat, pekerjaaan tidak sesuai perjanjian kerja, tindak kekerasan dari majikan, depresi , dan masih banyak lagi hal memprihatinkan yang sering menimpa para pekerja migran ini. Dan yang membuat lebih memprihatinkannya lagi adalah bahwa di antara mereka banyaknya dari kalangan wanita yang pergi meninggalkan negeri untuk menjadi pekerja migran dengan membawa harapan dapat meraih kehidupan yang lebih baik.

Dilihat dari banyaknya masalah yang sering menimpa pekerja migran ini, tidak membuat peminat untuk bekerja di luar negeri ini mengurungkan niat untuk bekerja atau pun berkurang jumlah peminat setiap tahunnya, malahan semakin meningkat. Sulitnya mendapatkan pekerjaan dan minimnya lapangan kerja di negeri sendiri, menuntut para pencari kerja ini untuk bekerja di luar negeri guna memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya, inilah salah satu akibat yang ditimbulkan saat negara menerapkan sistem kapitalis-sekuler. Kurangnya lapangan pekerjaan bagi rakyat, menunjukkan kurang adanya peranan negara secara serius untuk meriayah rakyatnya, rakyat terpaksa harus bersusah payah agar bisa memenuhi kebutuhannya. Mirisnya saat seharusnya seorang laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarga, namun saat ini begitu sulitnya laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan, sementara lapangan pekerjaan begitu lebar untuk para wanita. Akhirnya tidak sedikit para wanita, bahkan ibu rumah tangga rela meninggalkan buah hatinya agar bisa bekerja demi memenuhi kebutuhan yang semakin hari semakin mencekik, termasuk menjadi pekerja migran ke luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *