Opini

PEREMPUAN BERDAYA SECARA EKONOMI DI SEKTOR PARIWISATA, JAMINAN SEJAHTERA?

138
×

PEREMPUAN BERDAYA SECARA EKONOMI DI SEKTOR PARIWISATA, JAMINAN SEJAHTERA?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Zakia Salsabila

 

Dikutip dari Suara.com, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo saat menyampaikan pengantar di hadapan wakil sekira 40 negara partisipan dalam The 2nd UN Tourism Regional Conference on the Empowerment of Women in Tourism in Asia and The Pacific, mengenalkan tentang tokoh kesetaraan gender Tanah Air, Ibu Kartini. Serta menyatakan pentingnya peran kaum Hawa dalam bisnis pariwisata.

Director of the Regional Department for Asia and the Pacific UN Tourism, Harry Hwang menyatakan rasa sukacita karena Konferensi Pariwisata PBB Kedua digelar di Bali. Sebuah destinasi pariwisata dengan alam dan budaya yang terkenal.

“Berdasarkan agenda 2030 PBB untuk tujuan pembangunan berkelanjutan dan kode etik pariwisata global, kami memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa pariwisata memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan lelaki dalam berkontribusi terhadap pencapaian kelima, yaitu mencapai kesetaraan gender,” kata Harry Hwang.

Dunia sangat getol mendorong keterlibatan Perempuan dalam dunia pariwisata sebagai upaya untuk mewujudkan kesetaraan gender. Narasi kemandirian perempuan juga terus digaungkan dan diklaim bisa mengatasi segala permasalahan perempuan, termasuk muslimah. Benarkah demikian?

Faktanya kehidupan kaum perempuan masih belum beranjak dari keterpurukan. Kemiskinan, kekerasan, diskriminasi dan persoalan-persoalan lainnya yang diklaim sebagai persoalan perempuan justru masih lekat dengan kehidupan kaum perempuan bahkan umat Islam secara keseluruhan. Sejatinya Perempuan saat ini menjadi tumbal kegagalan Sistem ekonomi Kapitalisme dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, sehingga harus melibatkan perempuan sebagai penggerak ekonomi. Sistem kapitalisme telah menjadikan Perempuan dihargai jika menghasilkan uang.

Dalam pandangan kapitalisme, masyarakat yang ideal adalah para ibu yang menjadi wanita karir dan menitipkan anak-anak mereka di tempat penitipan. Asisten rumah tangga pun mengambil peran keibuan dan pengelola rumah tangga. Alhasil, hancurlah masa depan generasi. Banyaknya pekerja perempuan di sektor pariwisata pun sebenarnya menunjukkan negara gagal dalam menyejahterakan perempuan. Sungguh miris, dalam sistem kapitalisme lagi-lagi perempuan yang jadi korban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *