Opini

Penjaga Agama Tiada Agama Dinista

63
×

Penjaga Agama Tiada Agama Dinista

Sebarkan artikel ini

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

 

Mama Ghufron yang mengaku seorang wali dan mengarang 500 kitab berbahasa Suryani serta bisa berbahasa semut telah menyebarkan kesesatan. “Saya lihat ajaran Mama Ghufron di YouTube. Isinya sesat,” kata aktivis Islam Farid Idris dalam pernyataan kepada redaksi www.suaranasional..com, Rabu (19/6/2024).

Melansir dari pikiran-rakyat..com 10-06-2024, Menurut The Mediterranean World in Late Antiquity, Bahasa Suryani atau sering juga disebut Bahasa Suriah adalah bahasa Aram Timur yang pernah dituturkan sebagian besar wilayah Bulan Sabit Subur dan Arab Timur. Mengutip World Council of Arameans, Bahasa Suryani juga merupakan bahasa liturgi dari beberapa gereja di Suriah, seperti gereja Ortodok, Maronit, dan lain-lain.

Baik, kita tidak membahas lebih jauh tentang bahasan bahasa suryani. Namun ada hal yang mencengangkan bahwa dengan bahasa tersebut telah membuat seseorang mengatasnamakan Islam dalam pendapat-pendapatnya sesuai keinginannya. Di ranah demokrasi ternyata apa pun bisa melenggang, termasuk penyelewengan faham agama yang pada akhirnya menodai agama.

*Penistaan Berulang Demokrasi Sekuler Despotik Biang Keladi*

Sudah berulang kali kasus penistaan terhadap Islam terjadi. Ditangkap atau tidak, dipenjara atau tidak, penista agama terus bermunculan.
Bagai rem blong, sistem sekarang seakan membiarkan kasus melaju terus. Kebebasan tanpa batas begitu lekat tanpa ikatan kuat.

Atas nama kebebasan berpendapat dan berekspresi, penistaan terhadap Islam seakan dilegitimasi. Sekalipun di Indonesia kebebasan tersebut memiliki keterbatasan, pada faktanya hanyalah sebatas jargon. Demokrasi terlalu pekat mewarnai, hingga dengan mudahnya berselancar dalam samudera kehidupan umat. Demokrasi biang keladi atas semua yang terjadi. Demokrasi begitu despotik menghajar Islam dengan bebasnya.

Memang benar ada UU Penodaan Agama sebagai dasar penjagaan agama. Namun realisasinya tidak cukup efektif mencegah penghinaan terhadap Islam. Kebencian terhadap ajaran Islam selalu mengiringi. Jika penista agama lain adalah muslim, tanpa tedeng aling-aling pelaku langsung dicap radikal dan intoleran.

Sistem di negeri ini telah gagal menjaga agama. Sanksi yang ada tidak berefek jera bagi penista agama. Ringannya hukuman tak membuat para penista kapok. Tidak adanya ketegasan hukum bagi semua pihak pelanggar, membuat kasus penistaan seperti siaran ulang. Peran negara minim dalam menjaga agama, pasif aksi, lamban bertindak. Bagai sangkuriang kesiangan, benteng pertahanan terkait penjagaan agama tak terbangun dengan sempurna. Setelah umat Islam bergerak dan bersuara lantang barulah negara melenggang.

Anehnya, jika pelaku teror notabene muslim, aparat bisa bergerak cepat, bahkan asas praduga tak bersalah seakan tak lalu bagus pelaku muslim. Menembak mati muslim yang masih diduga pelaku, bagai sebuah keberhasilan dalam atasi kekacauan. Mirisnya terhadap penista Islam, kesan lambat tervisualisasi di tengah rakyat. Penistaan Islam seakan tak penting bagi aparat. Demokrasi tak pernah berpihak pada Islam.

Sungguh, sekulerisme yang diterapkan negeri ini telah memangkas peran agama dalam mengatur kehidupan. Paham yang terlahir darinya (liberalisme, pluralisme, demokrasi) menganggap agama bukan sesuatu yang sakral yang wajib dijaga.

Saat umat marah dan menuntut hukuman tegas bagi penista agama, umat diminta legowo untuk memaafkan para penista. Wajarlah menista menjadi lumrah.

Negeri ini telah menerapkan hukum yang serba salah. Penerapan hukum sekuler menampakkan ranah abu-abu. Jika penista agama ditindak tegas berbenturan dengan HAM dan kebebasan berpendapat. Sedangkan jika tidak ditindak tegas, kebebasan terus melaju tanpa batas. Dihukum salah, tidak pun salah. Paradigma sekuler telah menunjukkan kelemahannya. Sandaran yang tidak baku dan tidak tetap, telah mewujudkan terpengaruh penilaian manusia sangat dominan. Oleh karenanya, kaum muslim tidak dapat terlindungi jika tidak memiliki pelindung kuat. Padahal saat Khilafah masih tegak menaungi, kaum muslim terjaga dari penistaan sebagaimana di masa Khalifah Abdul Hamid atas pelecehan terhadap Rasulullah saw..

Mudahnya masyarakat terjerumus pada ajaran yang salah adalah lemahnya pemahaman mereka tentang agama. Dan ini menjadi penyebab lain kesesatan yang terjadi di tengah umat. Kemalasan berpikir, inginnya beribadah dengan cara mudah, tidak adanya peran negara untuk menguatkan akidah membuat mereka terpengaruh dengan ajaran yang melenceng dari kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *