Opini

Penistaan Agama Kembali Berulang, Bukti Merosotnya Adab, Etika, Moral Masyarakat Saat Ini

127
×

Penistaan Agama Kembali Berulang, Bukti Merosotnya Adab, Etika, Moral Masyarakat Saat Ini

Sebarkan artikel ini

Kejadian yang paling hangat saat ini adalah pelecehan terhadap mesjid di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Sekelompok biksu sengaja melakukan ritual ibadah tanpa adanya pelarangan dari Pemda setempat. Mungkin ini yang disebut sebagai moderasi agama dan pemahaman bahwa semua agama sama. Dan umatpun menelan mentah-mentah pemahaman sesat tersebut. Toleransi terhadap agama orang lain tapi mati nurani terhadap agamanya sendiri, inilah sikap yang kini diterapkan umat Islam di negari ini bahkan luar negeri. Aksi-aksi demo/protes atas kekejian ini juga tidak berpengaruh apa-apa. Buktinya, tidak ada tindakan hukum yang memuaskan dari pemerintah dalam menangani kasus ini.

*Bagaimana Islam menyikapi dan bertindak kepada para pelaku penista agama?*

Point tegas, tidak ada kasus penistaan agama dalam sistem pemerintahan Islam. 14 abad lebih berdiri, tidak pernah ada kasus pelecehan/penistaan agama Islam yang dilakukan oleh umat Islam juga non Islam secara berepisode dan tersistem. Rakyat/umat benar-benar dilindungi oleh negara apapun akidah dan agamanya. Toleransi benar-benar diterapkan tanpa melanggar batasan-batasan yang sudah ditentukan oleh Allah dalam Al Qur’an dan As sunah. Kepala negara/khalifah dan para pejabat mengontrol langsung umat/rakyat baik dengan penerapan undang-undang sesuai syariat atau langsung berinteraksi dengan umat untuk mengetahui peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi di tengah-tengah umat/rakyat. Jika ada pelaku yang berani melakukan pelecehan agama, baik kepada Baginda Nabi dan Al Qur’an, juga mesjid maka sudah pasti mereka akan dijatuhi hukuman yang membuat jera atau bahkan bertobat, sebab tidak ada tawar menawar hukum dalam sistem pemerintahan Islam.

Inilah pentingnya memilih pemimpin dan pejabat negara yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya sebab di tangan orang-orang amanah seperti inilah negara akan lebih terawat dan cepat maju, umat/rakyat terkontrol disemua sendi-sendi kehidupan. Karena Amirul mu’minim dan para pejabat menempatkan jabatan sebagai amanat dan tanggungjawab yang dilandasi ketakutan pada sang Khalik, tentu mereka tidak akan membiarkan berbagai bentuk kejahatan merajalela. Berbeda dengan pemimpin yang menjadikan jabatan sebagai wadah kongkow-kongkow sesama hewan pengerat, tidak ada yang lebih penting selain membuncitkan perut sendiri dan golongannya. Bila dalam Islam peraturan/undang-undang dibuat atas ketaatan kepada Allah dan Rasulullah Muhammad Saw, maka dalam democrazy undang-undang/peraturan dibuat atas pesanan para investor termasuk dalam hal pelecehan agama.

Negara kecil akan menjadi maju dan besar bila dipimpin oleh orang yang cerdas dan taat kepada sang Pencipta semesta. Negara sekaya apapun pasti bangkrut bila dipimpin oleh orang yang bodoh, sebab orang bodoh itu rakus (besar nafsunya). Dan ini sudah menjadi catatan sejarah yang terus berulang meski zaman dan pelakonnya berbeda.

Pelecehan/penistaan terhadap agama Islam tak cuma wujud dari ISLAMOPHOBIO tapi juga bukti bahwa pemerintah sengaja mau merusak satu agama karena dianggap membahayakan kepentingan politik, sosial, budaya juga bisnis. Disadari atau tidak, pelecehan/penistaan agama juga adalah upaya pembodohan juga membodohi umat yang telah direncanakan sedemikian rupa.

Namun satu yang pasti Allah selalu membalas mereka yang sudah mempermainkan agamanya. Bila umat masih tidak sadar bahkan tak mau membela, juga tidak bisa menghukum para pelaku, Allah akan sendirinya menghukum mereka dengan cara yang tidak bisa diduga-duga.

Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *