Opini

Penistaan Agama Akibat Sekulerisme

79
×

Penistaan Agama Akibat Sekulerisme

Sebarkan artikel ini

Oleh : Tutik Indayani
Pejuang Pena Pembebasan

Miris sekali seorang pejabat negara yang berada di Kementerian Perhubungan bersumpah dihadapan istrinya sambil menginjak kitab suci Al Qur’an, kitab yang diagungkan oleh umat Islam.
Hal tersebut dilakukan untuk membantah bahwa dirinya tidak berselingkuh seperti yang dituduhkan oleh istrinya.

Peristiwa ini menjadi viral dan memancing kemarahan umat Islam atas tindakan tersebut, karena ini dianggap penistaan terhadap agama khususnya agama Islam, walaupun mereka tidak berniat untuk menistakan agama.

Atas perbuatan ini, keduanya dijerat pasal berlapis, yakni UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) 19/2016 dengan ancaman 6 tahun penjara, serta Pasal 156 a KUHP tentang Penistaan terhadap Agama dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Selalu Terulang!

Kasus seperti ini bukanlah hal pertama terjadi, sudah banyak kasus serupa, seperti menghina Allah, menghina Rasulullah, joget-joget saat sholat dll, tetapi karena lambatnya aparat dalam menangani masalah penistaan agama dan tidak adanya sangsi hukum yang tegas, yang dapat menimbulkan efek jera bagi pelakunya, jadi kasusnya terulang dan semakin meningkat jumlahnya.

Bukan hanya di dalam negeri, penistaan terhadap agama juga terjadi di luar negeri, dengan membakar , merobek-robek Al Qur’an, ini juga akibat buah demokrasi liberalisme, dengan dalih kebebasan berpendapat, berekspresi, yang dilindungi oleh HAM, maka setiap individu merasa memiliki hak tanpa batas, tanpa merasa berdosa dapat menghina, merendahkan dan melecehkan agama orang lain.

Diperparah lagi pelakunya bukan orang kafir saja, umat Islam juga ada yang melakukannya, bahkan menurut data sebanyak 64,7% pelakunya umat Islam sendiri (kompas, 27/8/2021), sedangkan total penistaan terhadap agama selama 10 tahun terakhir sebanyak 51 kasus (paling banyak penistaan agama Islam) dari tahun 2011-2021.

Selain liberalisme, sekulerisme yang juga telah meracuni pemikiran umat saat ini, kitab suci bukan lagi barang yang dianggap sakral, suci, tetapi dianggap seperti buku biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *