Opini

Pengangguran di Kalangan Gen Z Kian Meningkat

92

Oleh : Ummu Najmi
(Ibu Rumah Tangga)

 

Sempitnya lapangan kerja membuat angka pengangguran di negeri ini semakin tinggi, terutama di usia produktif seperti Gen Z yang jumlahnya sangat besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 9,9 juta penduduk Indonesia yang tergolong usia muda atau Gen Z yang belum memiliki pekerjaan. Angka tersebut didominasi oleh penduduk yang berusia 18 hingga 24 tahun. (kumparan.com, 20/05/2024)

Menanggapi hal tersebut, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziah, mengatakan angka pengangguran tersebut adalah mereka yang baru lulus dari masa pendidikannya, namun belum mendapatkan pekerjaan. Selain itu Ida menjelaskan banyaknya anak muda yang belum mendapatkan pekerjaan karena tidak cocok (mismatch) antara pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan pasar kerja.

Faktor Penyebab Tingginya Angka Pengangguran

Memang jika ditelisik ada berbagai faktor yang menjadikan banyaknya pengangguran di kalangan gen Z, di antaranya adalah ketidaksesuaian antara pendidikan yang ditempuh dengan permintaan pasar tenaga kerja yang dibutuhkan sehingga menimbulkan kurangnya kesiapan mental dari mereka untuk terjun di dunia kerja; sempitnya lapangan kerja yang tersedia sehingga mereka harus bersaing dengan banyak orang, kemajuan teknologi yang membuat banyak peran manusia bisa digantikan oleh mesin atau kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan adanya kebiasaaan dari mereka yang biasa mencari kenikmatan dan kesenangan hidup, sehingga cenderung tidak mau bekerja berat/keras dan memilih-milih pekerjaan yang ringan.

Faktor-faktor di atas merupakan beberapa faktor yang ditengarai menjadi penyebab tingginya angka pengangguran di kalangan gen Z. Namun, yang menjadi faktor utama adalah abainya negara terhadap persoalan tersebut. Adalah ironi, negeri yang dilimpahi berbagai kekayaan alam yang berlimpah baik di daratan, lautan, bahkan di dalam perut buminya, namun generasi mudanya kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini tidak lain karena negara mengadopsi sistem Kapitalisme dalam pengaturan urusan rakyatnya. Dengan sistem ini, sumber daya alam (SDA) yang berlimpah tersebut tidak berada dalam pengelolaan negara untuk hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Sebaliknya, negara justru menyerahkan pengelolaannya kepada pihak swasta yang merupakan para pemilik modal, yang tentu saja bertujuan profit semata.

Exit mobile version