Opini

Pelecehan Anak oleh Ibu Kandung, Menunjukkan Hilangnya Fitrah Perempuan

87
×

Pelecehan Anak oleh Ibu Kandung, Menunjukkan Hilangnya Fitrah Perempuan

Sebarkan artikel ini

Oleh Ummi Nissa
Pegiat Literasi

 

Miris, pembuatan video vulgar yang kemudian disebarkan sampai viral kian marak. Beberapa waktu lalu, video asusila seorang ibu muda berinisial R (22) di Tangerang Selatan, Banten, tersebar luas.

Ibu muda tersebut dilaporkan karena dalam rekaman videonya ia melecehkan anak kandungnya sendiri yang berusia 4 tahun. Hal tersebut dilakukan, karena teperdaya iming-iming cuan. Tidak berselang lama, kejadian serupa kembali terjadi. Aparat yang berwenang menangkap ibu inisial AK (26), yang tega mencabuli putra kandungnya yang masih berusia 10 tahun di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. (detik..com, 9 Juni 2024)

Terkait kasus tersebut, psikolog anak Novita Tandry mengatakan, ada bahaya laten yang mengancam korban pencabulan pada anak. Ia menjelaskan, pada usia 0-6 tahun, otak manusia berada dalam masa penyerapan. Semua yang diserap oleh panca indera akan disimpan informasinya dalam otak. Sementara anak kecil belum dapat memahami apa yang terjadi pada dirinya. Informasi benar atau salah, wajar atau normal, semua masih belum terverifikasi. Akibatnya ketika beranjak dewasa memori ini bisa terbangkitkan kembali yang berpotensi membawa dampak negatif. Oleh karenanya dampak dari tindakan asusila kepada anak tidak boleh diabaikan.

Fitrah seorang ibu sejatinya berperan sebagai pelindung, merawat, memberikan kasih sayang, dan rasa aman pada anak. Namun dalam kasus asusila ini yang terjadi malah sebaliknya. Ibu tega merusak masa depan anak hingga berpotensi menimbulkan trauma baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Betapa kehidupan hari ini telah nyata merusak manusia, termasuk perempuan, dengan mencerabut fitrahnya sebagai seorang ibu. Apa penyebabnya?

Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu meningkatnya tindak asusila ini terjadi. Pertama, faktor lemahnya ketakwaan individu. Hal ini sebagai akibat dari gagalnya sistem pendidikan dalam membentuk individu yang berkepribadian mulia. Ketakwaan yang lemah juga memudahkan seseorang terjerumus pada perilaku maksiat. Himpitan beban ekonomi yang berat ditambah lemahnya keimanan dapat mendorong seseorang menghalalkan segala cara, termasuk mengorbankan anak sendiri untuk mendapatkan cuan demi memenuhi kebutuhan.

Kedua, kurangnya kepedulian antar sesama masyarakat dalam menghadapi beragam persoalan hidup seperti masalah ekonomi. Semua manusia memiliki kebutuhan dasar yang wajib untuk terpenuhi seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Hari ini, untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut menjadi tanggung jawab individu masing-masing. Akhirnya setiap orang sibuk mengurusi urusannya sendiri. Boro-boro peduli dengan tetangganya yang kesusahan, mengurusi dirinya saja sudah kerepotan. Inilah yang menjadikan individualisme tumbuh subur.

Selain individualisme, gaya hidup mewah (hedon) turut memperparah meningkatnya tindakan pelanggaran hukum. Masyarakat tidak bisa lagi membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Padahal jelas, kalau keinginan bisa ditunda pemenuhannya, sementara kebutuhan tidak bisa ditunda untuk pemenuhannya. Akibatnya banyak terjadi pelanggaran hukum dengan alasan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan. Padahal bisa jadi hanya untuk memenuhi keinginan.

Ketiga, negara absen dalam menjamin pemenuhan kebutuhan masyarakat. Saat ini peran negara bukan sebagai pengurus rakyat, sebaliknya hanya sebatas pengatur dalam mengeluarkan kebijakan publik, itu pun sering kali bukan untuk kesejahteraan rakyat kebanyakan. Namun hanya menguntungkan segelintir orang terutama pemilik modal. Negara membiarkan rakyat berjibaku memenuhi kebutuhannya sendiri.
Maka tidak heran jika hari ini perempuan pun tidak luput teperdaya menjadi pelaku kejahatan sadis sebagaimana laki-laki. Kejahatan itu dilakukan demi memenuhi kebutuhan hidup. Sistem kehidupan ini telah menghilangkan rasa kasih sayang dan perlindungan seorang ibu, menggantinya dengan kecintaan pada dunia dan keuntungan materi.

Semua hal itu, sejatinya sebagai akibat sistem kehidupan saat ini yang mengikuti konsep Barat, yaitu kapitalisme sekuler. Sistem hidup yang telah menjauhkan nilai-nilai agama dari pengaturan bermasyarakat. Akibatnya hawa nafsu mendominasi dan menyesatkan arah kehidupan manusia. Manusia, termasuk perempuan tidak lagi tunduk pada Pencipta, mereka hidup bebas mengejar kebahagiaan dunia berupa berlimpahnya harta. Inilah akar penyebab rusaknya fitrah manusia, termasuk perempuan.

Padahal rusaknya perempuan, jelas akan membawa kerusakan besar pada masyarakat. Pasalnya perempuan adalah ibu peradaban yang dari rahimnyalah akan lahir generasi masa depan. Apalagi perempuan adalah pendidik pertama dan utama. Maka terbayang malapetaka yang akan menimpa dunia jika para perempuan tidak lagi memiliki kepribadian yang mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *