Opini

Pelecehan Anak Berulang, Kapitalisme Menggerus Fitrah Ibu

456
×

Pelecehan Anak Berulang, Kapitalisme Menggerus Fitrah Ibu

Sebarkan artikel ini

Oleh : Yuli Farida

(Aktivis Dakwah Kampus Jambi)

Psikolog anak Novita Tandry mengatakan, ada bahaya laten yang mengancam korban pencabulan oleh ibu kandung berinisial R (22) di Tangerang Selatan meski saat ini tidak ada indikasi trauma pada bocah lima tahun tersebut. Novita menjelaskan, pada usia 0-6 tahun, otak manusia berada dalam masa penyerapan. Semua yang diserap oleh panca indera akan disimpan informasinya dalam otak.
Waktu remaja (setelah pubertas), semua yang sudah masuk di kepala, itu akan sangat bisa dibangkitkan kembali.
Eks Komisioner KPAI Ingatkan Ada Bahaya Mengintai Anak Korban Pencabulan Efeknya pada setiap orang memang berbeda.

Novita menjelaskan, anak kecil belum dapat memahami apa yang terjadi pada dirinya. Informasi benar atau salah, wajar atau normal, semua masih belum terverifikasi. Misalnya, ketika seorang anak mengalami kekerasan atau pelecehan seksual. Jika alat kelaminnya diremas kencang-kencang, anak hanya bisa memahami rasa sakit yang ia rasakan pada fisiknya. Ia belum paham kalau alat vitalnya disentuh adalah hal yang tidak wajar atau mungkin salah. Beda dengan remaja, dia sudah punya libido, ada bagian tubuh yang sudah tumbuh. Dia tahu, ‘Saya enggak nyaman, saya mestinya enggak disentuh seperti ini’. Jadi, ada yang disebut sebagai hati nurani yang menegur,” lanjutnya. Novita menjelaskan, pemahaman benar dan salah ini juga mungkin terjadi ketika si anak yang sudah tumbuh menjadi remaja mengingat kembali (flashback) ke peristiwa yang terjadi di masa kecilnya. Atas alasan ini, Novita mengatakan, pemantauan dan pendampingan kepada anak-anak korban pelecehan dan kekerasan seksual harus terus dilakukan. Kondisi korban yang saat ini dinilai dalam kondisi normal dinilai tidak dapat menjadi pedoman. Orangtua Belum Tentu Menjamin Keamanan Anak Novita beranggapan, anak yang mendapat cukup perhatian, cukup makan, dan cukup tidur, secara fisik akan terlihat biasa atau normal. Untuk diketahui, R (22) ibu muda dari Tangerang Selatan nekat mencabuli dan merekam aksi asusila terhadap anaknya yang berusia lima tahun. Saat ini, R telah ditahan di Polda Metro Jaya untuk diperiksa lebih lanjut. Sementara, korban tengah diamankan di fasilitas Rumah Aman di bawah naungan UPTD PPA Tangerang Selatan.
Kompas.com(8/6/2024).

Akar Masalah

Merebaknya kasus asusila terhadap anak sejatinya karena tidak adanya perlindungan berlapis untuk anak. Hal ini disebabkan oleh tereduksinya pemahaman tentang kewajiban negara, masyarakat, dan keluarga, serta tidak diberlakukannya aturan baku di tengah-tengah masyarakat.

Inilah akibat kegagalan sistem menyolusi berbagai persoalan karena kesalahan merumuskan akar masalah. Maraknya kasus asusila pada anak adalah buah penerapan sistem sekuler liberal. Keimanan terkikis, peran agama makin terpinggirkan, dan sanksi hukum yang tidak memberikan efek jera menjadikan kejahatan seksual makin beragam.

Akibat sekularisme, kaum muslim kehilangan gambaran nyata tentang kehidupan Islam yang sesungguhnya. Islam hanya terbatas pada ibadah ritual. Aturan Islam tergantikan dengan hukum sekuler buatan manusia. Aturan inilah yang mendominasi tata pergaulan sosial di masyarakat, padahal Islam sudah memiliki solusi tepat dalam mengatasi maraknya perbuatan asusila dan pelecehan seksual.

Solusi Islam

Islam memiliki sejumlah perlindungan berlapis dalam mengatasi kejahatan seksual. Di antaranya pertama, lapisan preventif, yaitu pencegahan. Islam mengatur secara terperinci batasan-batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, yakni (1) mewajibkan perempuan menutup aurat dengan berhijab syar’i (kewajiban berjilbab dan berkerudung di ruang publik); (2) kewajiban menundukkan pandangan bagi laki-laki dan perempuan; (3) karangan berkhalwat, tabaruj (berhias di hadapan nonmahram), dan berzina; (4) memerintahkan perempuan didampingi mahram saat melakukan safar (perjalanan lebih dari sehari semalam) dalam rangka menjaga kehormatannya; dan (5) memerintahkan untuk memisahkan tempat tidur anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *