Opini

Pelecehan Anak Berulang, Islam Solusinya

81
×

Pelecehan Anak Berulang, Islam Solusinya

Sebarkan artikel ini

Oleh: Bunda Aisyah

Membahas hubungan ibu dan anak tak lekang oleh waktu. Namun, apa jadinya jika hubungan ibu dan anak menggoreskan trauma mendalam pada anak akibat ulah sang ibu? Hubungan ibu dan anak yang seharusnya indah dibahas kini sebaliknya.
Sedih, marah, bercampur dengan kejadian asusila yang dilakukan seorang ibu terhadap anak kandungnya. Ibu yang seharusnya menjaga amanah dari Tuhan dengan sebaik mungkin justru berbuat sebaliknya. Pelecehan seksual dilakukan seorang ibu terhadap anak lelakinya demi sejumlah uang yang diiming-imingkan kepadanya. Desakan ekonomi inilah yang membuat fitrahnya sebagai ibu terkikis seketika. (news..detik, 09/06/2024)
Ibu yang seharusnya menjadi pelindung berubah jadi sosok yang mengancam. Ibu tidak lagi sebagai sosok penyayang karena desakan ekonomi. Demi sejumlah uang, ia rela menyakiti sang anak. Miris.

Komnas perlindungan anak meminta kasus pelecehan ibu terhadap anak kandungnya segera diusut. Kemudian, memberikan perlidungan terhadap anak dari trauma yang diderita. Namun, peristiwa serupa tidak hanya terjadi saat ini, sebelumnya pun banyak kasus pelecehan seksual yang mengamcam anak-anak. Mirisnya, banyak dilakukan keluarga terdekat. Sanksi yang diberlakukan bagi pelaku pelecehan seksual ternyata tidak memberikan efek jera.

Terbukti masih banyak individu yang melakukan hal serupa.
Peristiwa pelecehan pada anak tak lepas dari aturan kehidupan kapitalis yang berlaku saat ini. Sistem pendidikan di era kapitalisme gagal membentuk kepribadian Islam pada diri masyarakat, tak terkecuali bagi seorang ibu. Ibu tidak lagi memiliki rasa takut untuk berbuat maksiat demi uang. Ibu tak lagi menjadi sosok panutan dalam keluarga. Semua karena tatanan aturan kapitalis yang mencetak demikian.
Di sisi lain, negara juga tak mampu menyejahterakan rakyatnya sehingga hal hina pun rela dilakukan seorang ibu demi uang. Kepala rumah tangga yang seharusnya menyediakan nafkah bagi anggota keluarganya justru tak dapat memenuhinya. Sehingga, seorang istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya mengambil jalan pintas untuk mendapatkan uang. Konsep berumahtangga sesuai syariat tak mewarnai kebanyakan keluarga muslim saat ini. Yang ada justru sebaliknya, sekulerisme(memisahkan agama dari kehidupan) yang mewarnainya. Akibatnya, perilaku menyimpang kerap kali ditemukan di masyarakat. Karena menganggap agama sebatas ritual pribadi semata.

Penyelesaian berbagai kejadian asusila ini butuh peran negara untuk memberantasnya. Tidak cukup sekadar organisasi kemasyarakatan yang menyelesaikan, apalagi individu. Terkait kasus pelecehan seksual terhadap anak karena desakan ekonomi, maka negara berkewajiban memberi jaminan kesejahteraan bagi warga negaranya. Sehingga kepala keluarga mampu menafkahi seluruh anggota keluarganya dengan layak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *