Opini

Palestina dan Derita Tak Berujung

153
×

Palestina dan Derita Tak Berujung

Sebarkan artikel ini

 

Oleh Rizka Adiatmadja
(Praktisi Homeschooling)

Palestina tak pernah berhenti dari nestapa. Penjajahan yang sadis seharusnya sudah menggerakkan pembelaan dunia. Mengapa hingga detik ini Palestina sendirian tanpa perlindungan? Setiap kedipan mata korban jiwa terus bertambah. Tanpa perisai dan mati secara keji di tangan penjajah.

Kalimat “All Eyes on Rafah” tak berhenti diunggah. Slogan yang akhir-akhir ini viral, belum mampu menghentikan kekejian sang penjagal. Entitas penjajah Yahudi yang bengis, tak pernah sedikit pun beranjak dari hegemoninya menguasai Palestina menancapkan sejarah demi sejarah genosida yang tragis.

Masyarakat dunia memang tidak diam. Suara protes begitu membahana, mengutuk kebiadaban entitas penjajah Yahudi yang kejam. Namun, semua upaya besar tersebut tak sedikit pun bisa mengerahkan pasukan tentara setiap negara untuk membela Palestina. Ada apa di balik semua?

Dikutip dari bbc.com – Insiden yang melahirkan korban jiwa yang tak sedikit, terjadi di Rafah awal pekan ini yang membuat orang-orang mengunggah rekaman video Richard Peeperkorn, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia di wilayah Palestina yang diduduki entitas penjajah Yahudi.

Richard Peeperkorn mengatakan kepada wartawan di bulan Februari. “Semua mata tertuju pada Rafah” semua mengacu pada pasukan tentara entitas penjajah Yahudi.

Dari markas besar PBB di Jenewa, Peeperkorn mengaku khawatir “bencana yang tak terbayangkan” jika tentara entitas penjajah Yahudi melakukan serangan besar-besaran ke kota tersebut. (31 Mei 2024)

Ya, serangan entitas penjajah Yahudi pada Ahad 26 Mei 2024, yang mengakibatkan kebakaran 14 tenda pengungsi di distrik Tel Al-Sultan, Kota Rafah. Serangan tersebut menewaskan 45 orang dan 249 yang terluka. Dua hari kemudian, tentara penjajah melakukan penembakan ke kamp pengungsi Al Mawasi, di sebelah barat Rafah, korban tewas setidaknya ada 21 orang, termasuk 12 perempuan.

Gelombang protes masyarakat dunia tak membuat entitas penjajah Yahudi yang keji berhenti, serangan tetap dilakukan pada Kamis, 30 Mei 2024 dan menewaskan 12 orang. Dari sejak 30 Oktober 2023, Gaza dibombardir. 36.171 warga Palestina tewas dan 81.420 lainnya terluka.

Kota Rafah adalah persinggahan terakhir bagi rakyat Palestina untuk mengungsi. Kota yang sempat diklaim sebagai kawasan paling aman dari militer entitas penjajah Yahudi. Kini, kota tersebut tidak lagi aman. Rusak dan hanya berupa reruntuhan bangunan yang menyisakan kenangan. Gaza menjadi kawasan yang mati, tak ada tempat yang bisa menjadikan anak-anak dan perempuan terlindungi.

Penjajah bengis yang kerap berdalih menyerang ganas karena ingin menghancurkan Hamas. Ternyata semua dusta. Seyogianya keruntuhan wilayah Gaza adalah tujuan utama mereka.

Pro Palestina membahana dari berbagai negara, tak terkecuali AS, Australia, Inggris, Prancis, India, dan Kanada. Nestapa yang dialami Palestina adalah derita kita semua. Bagi kaum muslim, membela Palestina adalah kewajiban. Bahkan pembelaan dari nonmuslim bukan serta-merta tanpa makna. Namun, sisi kemanusiaan yang bergerak nyata karena entitas penjajah Yahudi benar-benar keji dan tidak manusiawi.

Kesadaran yang terbentuk dari berbagai belahan dunia memberikan gelombang positif bahwa kondisi Palestina adalah masalah global yang harus diselesaikan secara masif. Akidah Islam yang kuat mampu membentuk persatuan dan memberikan spirit kebangkitan yang nyata bahwa Palestina telah menjadi sebuah tolok ukur, betapa pentingnya umat Islam punya perisai hakiki dan menyeluruh yang bisa mempersatukan muslim dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *