Opini

Pajak Mengisap “Darah” Rakyat, Bukti Kejamnya Demokrasi

62
×

Pajak Mengisap “Darah” Rakyat, Bukti Kejamnya Demokrasi

Sebarkan artikel ini

By : Ummu Hawwa

Pemerhati umat

 

Jakarta, CNBC Indonesia – Penerimaan pajak anjlok pada Maret 2024. Sejumlah setoran pajak beberapa sektor industri turun drastis seperti industri manufaktur hingga industri pertambangan.

Total penerimaan pajak hingga Maret 2024 atau selama kuartal I-2024 hanya sebesar Rp 393,9 triliun. Realisasi ini turun 8,8% dari penerimaan pajak periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 431,9 triliun.

Bukti keserakahan sistem Demokrasi

Pajak merupakan pungutan wajib yang berasal dari rakyat kepada pemerintah suatu negara, pajak menjadi wajib bagi rakyat sebab pajak merupakan sumber penghasilan dari suatu negara untuk membiayai jalannya pembangunan. Di tahun 2022 PPN (pajak penambahan nilai) resmi menjadi 11%, dan tentu ini berdampak pada rakyat di tengah melonjaknya kebutuhan rakyat, dan di tahun 2025 terdengar kabar bahwa pemerintah berencana menaikan PPN menjadi 12%, yah walaupun ini hanya naik 1 %, tapi jelas ini akan berdampak pada rakyat yang semakin sulit dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Kemudian dampaknya yakni adanya lonjakan impor, sebab produk luar negeri lebih murah, dan tentu ini berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, meskipun ada pengecualian terhadap bahan pokok seperti beras, sagu, telur, susu, buah dan lain -lain. Namun bisa jadi berdampak di karenakan pelaku usaha yang bisa memainkan harga.

Tidak hanya itu kenaikan PPN akan berdampak terhadap membengkaknya biaya produksi dan melemahnya daya beli, sehingga akan terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja. Belum lagi rakyat di sedot dengan berbagai macam jenis pajak lainnya, seperti pajak Tanah, pajak kendaraan, pajak penghasilan dan masih banyak lagi, dan lagi-lagi rakyatlah yang menjadi korban.

Menurut pemerintah pajak akan digunakan untuk pembangunan dan mensejahterakan rakyat, seperti membangun sekolah, membangun rumah sakit, subsidi listrik ataupun subsidi pertanian lainnya. Tentu ini terdengar baik yang di mana tujuannya demi kesejahteraan rakyat namun pada nyatanya kembali lagi kita melihat para pejabat pajak melakukan korupsi besar-besaran, alih-alih mendapatkan kesejahteraan justru malah memperburuk perekonomian negara.
Dan inilah yang berlaku, sistem ekonomi Kapitalisme, yang sangat lemah sebab menjadikan pajak sebagai pemasukan utama. Sistem ini jelas membebani rakyat meski rakyat dikelabui dengan berbagai slogan,sehingga memang rakyat seharusnya bisa melihat kerusakan ini, sebab pemerintah dalam sistem demokrasi – kapitalis hanya akan menjadi lintah yang terus menghisap “darah” rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *