Opini

Nurani Ibu yang Mati Akibat Sistem Demokrasi

118
×

Nurani Ibu yang Mati Akibat Sistem Demokrasi

Sebarkan artikel ini

 

Oleh Heni Ummufaiz
Ibu Pemerhati Umat

Tak pernah terbersit dalam pikiran bahwa akhir-akhir ini akan mendapatkan pemberitaan tentang ibu kandung yang tega mencabuli anaknya sendiri. Demi sebuah cuan yang yang dijanjikan seseorang di media sosial telah merenggut hati nurani yang seharusnya melindungi bukan justru menyakiti.

Seorang ibu di Tangerang Selatan, Banten berinisial R (22) yang tega melecehkan anak kandungnya sendiri yang berusia 4 tahun. Bahkan kejadian serupa di Bekasi, Jawa Barat tega mencabuli putra kandungnya yang masih berusia 10 tahun (media online detikNews, 09/06/2024).

Peristiwa di atas sungguh di luar dugaan seorang ibu yang seharusnya memberikan kasih sayang dengan sepenuh hati justru sebaliknya. Pendidikan yang minim ditambah keimanan yang lemah berakibat hati nurani kian mati. Ini pula menjadi sebuah bukti bahwa para ibu muda yang menikah tanpa bekal akidah yang kokoh akan mudah roboh saat hantaman ekonomi menerpa. Belum lagi didukung oleh aturan yang memisahkan aturan agama dari kehidupan menjadi gunung es kehancuran para pencetak generasi. Ini semua buah dari sistem pendidikan yang telah gagal mencetak individu yang memiliki kepribadian Islam dan yang mampu mengemban amanah jadi ibu.

Hampir sebagian besar kasus pelecehan seksual terhadap mereka para ibu yang sebenarnya belum siap untuk berumah tangga semisal karena kasus married by accident. Terlebih si Ayah yang belum siap bertanggung jawab untuk mencari nafkah karena tidak memiliki keterampilan yang mumpuni, atau bisa pula karena faktor single parent dan sulitnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Saat ini hampir di semua lini kehidupan terpuruk dan ekonomi makin sulit. Mulai dari harga beras yang kian mencekik, biaya pendidikan makin melangit, belum rasa aman dalam hidup terasa sempit karena angka kriminalitas kian meningkat. Ini menjadi beban hidup para keluarga khusus ibu. Iman yang rapuh membuat ibu mudah terenyuh dengan iming-iming rupiah yang belum tentu digenggaman.

Di sisi lain peran negara abai terhadap kondisi rakyatnya. Para keluarga termasuk di dalamnya sosok ibu saat ini dibiarkan berjuang sendirian dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Negara yang bercita-cita melahirkan generasi emas pada tahun 2045 rasanya sulit terwujud jika sedari sekarang para ibunya sebagai pencetak generasi sudah rusak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *