Opini

Miris, Perilaku Ibu Disistem Sekularis

68
×

Miris, Perilaku Ibu Disistem Sekularis

Sebarkan artikel ini

Oleh : Martinah S.Pd

 

Seorang ibu berinisial R (22) tega berbuat asusila terhadap putra kandungnya sendiri. Kejadian memilukan itu bermula pada 28 Juli 2023 ketika pemilik sebuah akun Facebook membujuk tersangka mengirim foto tanpa busana dengan iming-iming akan dikirimkan sejumlah uang. Tidak hanya itu, R diminta mengirimkan video saat “berhubungan” dengan suaminya, tetapi R menolak lantaran sang suami tidak berada di rumah.

Lalu, si pemilik akun tadi meminta agar R membuat video mes*m dengan anak laki-lakinya. Jika R tidak melakukan, pemilik akun tersebut mengancam akan menyebarkan foto R tanpa busana. Akhirnya, terjadilah perbuatan asusila R kepada anak kandungnya sendiri yang masih berusia lima tahun tersebut.

Setelah videonya viral di media sosial, sang ibu pun menyerahkan diri ke polisi. Tersangka R dijerat dengan pasal berlapis atas perbuatannya, yaitu Pasal 45 ayat (1) jo Pasal 27 ayat (1) UU 1/2024 tentang Perubahan Kedua UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik; UU Pornografi, yaitu Pasal 29 jo Pasal 4 ayat (1) UU 44/2008; serta Pasal 76 UU 35/2014 tentang Perubahan UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Fakta menyesakkan ini bukan sekali terjadi. Kasus orang tua mencabuli anak sendiri makin banyak. Orang tua yang seharusnya menjadi tempat berlindung paling aman dan nyaman, justru terlibat dalam kejahatan seksual. Ada ibu mencabuli anaknya, ada bapak merudapaksa anak perempuannya, ada anak mencabuli ibunya, dan masih banyak kasus lainnya.

Sosok yang seharusnya menyayangi dan melindungi malah mencemari diri dengan merusak anak sendiri.

Maraknya perbuatan asusila/pelecehan seksual dengan pelaku dari keluarga atau kerabat sendiri tidak terlepas dari faktor yang memengaruhinya. Ada beberapa faktor penyebab seorang ibu seperti R melakukan perbuatan asusila kepada anak kandungnya sendiri.

Pertama, faktor ekonomi. Dalam pengakuannya, R mengaku tergoda melakukan aksi pencabulan kepada anaknya sendiri karena tergiur tawaran uang Rp15 juta. Meski alasan ekonomi, perbuatan R tetap tidak dibenarkan dan haram dilakukan. Dampak buruk akibat perbuatan tersebut jelas akan berpengaruh pada perkembangan mental anak dan kepribadiannya. Hal ini juga makin menegaskan bahwa impitan ekonomi bisa membuat siapa pun gelap mata, tidak terkecuali seorang ibu.

Kedua, faktor lingkungan dan sosial masyarakat. Tidak bisa kita mungkiri, sistem kehidupan sekuler telah mendegradasi keimanan individu secara drastis. Hari ini kehidupan masyarakat semakin jauh dari nilai-nilai Islam. Tontonan, tayangan, film, konten berbau sensual dan tidak senonoh, lebih banyak menghiasi layar HP dan media sosial. Jika hal ini terus dibiarkan, generasi kita akan terancam dan malapetaka rusaknya moral generasi tidak terelakkan.

Walhasil, generasi makin liar akibat gaya hidup sekuler liberal yang dijajakan melalui tontonan. Perbuatan R bisa jadi adalah hasil kesalahan pola asuh dalam mendidik generasi. Secara fitrah, seharusnya seorang ibu memiliki naluri keibuan dan kasih sayang yang sangat besar terhadap anak. Namun, kehidupan sekuler bisa mengikis habis naluri tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *