Opini

Merdeka Belajar, Kurikulum Pendidikan Kapitalisme Racun Bagi Generasi

93
×

Merdeka Belajar, Kurikulum Pendidikan Kapitalisme Racun Bagi Generasi

Sebarkan artikel ini

Oleh Nuni

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap 2 Mei. Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) senantiasa diiringi evaluasi terhadap pemerintah dan pejabat terkait.Seiring peringatan Hardiknas tahun ini, Mei 2024 juga dicanangkan sebagai bulan Merdeka Belajar. Pemerintah menetapkan bahwa tema peringatan Hardiknas 2024 adalah Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar.

Di tengah optimisme menjadikan Kurikulum Merdeka sebagai Kurikulum Nasional, bukankah perlu merefleksikan kembali seberapa hebat kurikulum ini membentuk generasi berkualitas, bertakwa, dan berkarakter mulia? Bukankah pendidikan yang baik bukan hanya bicara capaian-capaian dalam angka dan materi, melainkan yang lebih utama ialah bagaimana generasi ini terdidik dengan benar dan tepat?

Dilansir dalam detik (26/02/2024), bahwa Kemendikbudristek akan segera mengesahkan kurikulum merdeka sebagai kurikulum nasional. Menurut Direktur Eksekutif Bajik Dhita Puti Sarasvati, Kurikulum Merdeka masih compang camping. Maka dari itu, banyak kelemahan yang harus diperbaiki. Kurikulum Merdeka belum layak menjadi Kurikulum Resmi Nasional. Hal yang paling esensial yang harusnya ada dalam kurikulum resmi malah belum ada yakni kerangka kurikulumnya. Semestinya filosofi pendidikan dan kerangka konseptual harus tertuang dalam konsep akademik. Karena itu kurikulum merdeka belum lengkap sebagai kurikulum.

Selama empat tahun berjalannya kurikulum ini dikembangkan dan diterapkan, memang meningkatkan nilai PISA dengan adanya peningkatan skor literasi dan numerasi siswa. Akan tetapi, hal tersebut selalu luput dari perhatian utama pemerintah ialah seberapa hebat kurikulum ini menjawab persoalan problematik pendidikan?

Seperti diketahui bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek yang menentukan generasi masa depan. Akan tetapi, faktanya justru dengan pendidikan generasi begitu miris terhadap kerusakan generasi.
Sebagaimana yang dilansir oleh (Tribunnews, 8/3/2024), selama sepekan terakhir, kasus bullying atau perundungan marak terjadi di sejumlah daerah. Pelaku dan korban merupakan anak sekolah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aksi kekerasan yang dilakukan anak-anak di bawah umur itu bahkan viral di media sosial.

Dalam mendukung pemulihan pembelajaran pasca pandemi, pada 2020 dicetuskanlah Kurikulum Prototipe hingga berganti nama menjadi Kurikulum Merdeka. Kurikulum yang dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik.

Mungkinkah, Kurikulum Merdeka akan mampu membentuk karakter mulia yang sangat diharapkan ada pada diri generasi hari ini? Atau Kurikulum Merdeka mampu menjawab persoalan krusial sesungguhnya yang tengah dihadapi pendidikan? Misalnya, perundungan,tawuran antar kelompok, kekerasan seksual, pergaulan bebas, hingga kehamilan di luar nikah. Makin ke sini, generasi kita makin jauh dari karakter dan akhlak mulia.

Jika dicermati, dalam kurikulum merdeka pendidikan lebih terfokus pada materi esensial sehingga pembelajaran lebih mendalam. Sementara itu, waktu lebih banyak untuk pengembangan kompetensi dan karakter melalui belajar kelompok seputar konteks nyata (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila).

Selain itu, capaian pembelajaran per fase dan jam pelajaran yang fleksibel mendorong pembelajaran yang menyenangkan dan relevan dengan kebutuhan pelajar dan kondisi satuan pendidikan. Memberikan fleksibilitas bagi pendidik dan dukungan perangkat ajar pendidikan dan melaksanakan pembelajaran berkualitas serta lebih mengedepankan gotong royong dengan seluruh pihak untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Apalagi kurikulum merdeka sebagai kurikulum nasional 2024 dianggap masih belum memberi kejelasan sebagai kurikulum.

Meski telah kurikulum telah berganti sebanyak sebelas kali. Akan tetapi belum memberikan dampak yang signifikan terhadap generasi. Boleh saja jika di atas kertas terjadi peningkatan capaian belajar atau penilaian yang bersifat materi. Akan tetapi, capaian karakter dan kepribadian mulia masih sangat jauh dari harapan kita. Ini karena kerangka kurikulum masih berasas pada kapitalisme yang sekuler materialistis sehingga tujuan pendidikan menjadi kehilangan arah hanya berfokus pada capaian materi yang semu.

Respon (1)

  1. Текущие новости из мира криптовалют откройте для себя у нас на канале Telegram [url=https://t.me/+iAf9zEAUxYwxNGRi]@cfsalary[/url] . Индивидуальный бот на искусственных нейронах, предназначенный для умной торговли и получения прибыли . Стабильный доход от бота до 60% каждый месяц . Проект [url=https://tradepulse.ru/]TradePulse[/url]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *