Opini

Menyoal Pembangunan Industri Parawisata

73
×

Menyoal Pembangunan Industri Parawisata

Sebarkan artikel ini

Oleh: Fitri

 

Siapa yang tidak kenal dengan kota Bandung? Ya, kota yang berdiri pada 25 September 1810 ini telah menjadi saksi bisu dari perjalanan sejarah Indonesia. Kota indah nan asri yang terkenal dengan keelokan budaya dan keramahan penduduknya. Ada beberapa fakta menarik dari kota Bandung yang sudah menjadi rahasia umum, diantaranya adalah:

1. Paris Van Java dan kota Kembang, hal ini d karenakan Bandung merupakan kota yang asri dengan banyak pohon dan ribuan bunga yang menghiasi seluruh kota.
2. Pusat fashion, hal ini bisa dilihat dari berbagai brand luar negeri yang bisa kita temukan dengan mudah di kota ini.
3. Surga kuliner, bukan hanya terkenal dengan makanan tradisional saja, bahkan berbagai jenis makanan dari pelosok negeri serta berbagai jenis makanan dari luar negeri pun tersaji dengan apik di sini.
4. Surga wisata, tak hanya memiliki wisata alam, tetapi juga terdapat berbagai macam wisata edukasi,budaya, wahana outdoor maupun indoor yang di bangun sedemikian rupa agar dapat menarik minat masyarakat.

Mirisnya, di tengah pembangunan kota yang masif, tingkat stress manusia yang ada di Indonesia mencapai 55%. Berbagai macam faktor dan pemicu yang dapat menimbulkan gejala stress ini, selain dari tekanan pekerjaan, juga dari standar kehidupan dari manusia itu sendiri, Oleh karena itu orang-orang di era milenial ini membutuhkan “healing” lebih sering dibandingkan dengan orang-orang terdahulu. Maka kesempatan ini seolah menjadi peluang “bisnis” oleh pihak-pihak tertentu, tidak terkecuali oleh Pemerintah Kota Bandung. Bagaimana tidak menggiurkan, sebanyak 195 ribu wisatawan mampir ke kota Bandung di setiap long-weekend, perputaran uang dapat mencapai 59 Milyar, angka ini dinilai cukup fantastis untuk menambah nilai pendapatan daerah.
Dinas Pariwisata beserta jajarannya seolah berlomba membuat sarana pembangunan pariwisata di tiap daerah di kota Bandung, tidak lain tujuan nya adalah untuk nilai materi. Ini adalah cara kapitalis untuk mengeruk harta rakyat demi kepentingan segelintir orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *