Opini

Menista Agama Menjadi Biasa dalam Ranah Negeri Tak Bermabda

122

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

 

Beredar video seorang pria menginjak Al-Quran saat bersumpah di hadapan istrinya. Pria tersebut membantah berselingkuh dan melakukan sumpah dengan Al-Quran agar istrinya percaya. (Tribunnews.com, 18/5/2024).

Berita ini viral di beberapa media massa dan juga media sosial. Seakan sudah menjadi kebiasaan, menista kitab suci atau pun simbol agama bahkan menista agama tak ubahnya candaan dan olok-olok yang dipertontonkan. Yang lebih menyakitkan, kejadian penistaan sering dikenakan pada Islam. Berulang kali Nabi Muhammad ﷺ dihina, dinista, jadi konten lawakan, namun seakan tak ada ketegasan terkait perilaku minus tersebut dari negara.

*Negeri Tak Bermabda*

Miris. Tragis. Bagai tragedi, negeri ini dilanda badai sekuleris yang menghinakan. Negeri ini menjadi negeri tak bermabda. Hingga wajarlah penistaan agama semakin subur di negeri muslim Indonesia. Islam ada namun tak dijadikan mabda. Paham yang telah memisahkan agama dari kehidupan telah memangkas akar mabda dari hakikat agama.

Mabda yang merupakan istilah bahasa arab untuk kata ideologi, telah disempitkan oleh sekulerisme dengan makna sesempit-sempitnya, padahal, menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam buku Al-Fikru Al-Islamiy (halaman 9-11), mabda merupakan aqidah aqliyyah yanbatsiqu’anha an nizham. Maksudnya, aqidah aqiyyah yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan. Sehingga disebutlah sebagai mabda bila memiliki dua syarat, yaitu sebagai aqidah aqliyyah dan memiliki sistem aturan.

Aqidah merupakan pemikiran menyeluruh tentang dunia, sebelum dunia, setelah dunia, hubungan antara dunia dengan sebelum dunia, dan hubungan antara dunia dengan kehidupan sesudah dunia. Sementara itu, sistem aturan tersebut mencakup berbagai pemecahan terhadap berbagai problematik kehidupan (baik pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara; menyangkut persoalan ibadah, akhlak, sosial, politik, ekonomi, dan budaya) serta cara untuk menerapkan berbagai pemecahan tersebut, cara untuk memelihara akidah, dan cara untuk menyebarkan akidah tersebut (Lihat: An-Nabhani, Nizham Al-Islam, halaman 22).
Inilah yang saat ini tak berjalan di negeri ini, hingga rasanya menjadi pantas mendapat sebutan negeri tak bermabda. Dan menista agama seakan tak ada cela dan dosa. Tak gercep untuk menghukuminya.

Sekularisme yang tegak dengan empat pilar kebebasan dalam sistem pemerintahan demokrasi, (kebebasan beragama, bertingkah laku, berekspresi, dan berpendapat), telah menjadikan Islam sebatas agama ritual semata. Kemuliaannya semakin tergerus gaya hidup liberal dan hedonistik yang diracik Barat dalam racun-racunnya. Agama tidak lagi menjadi prinsip hidup asasi sakral yang harus dijaga kesuciannya.

*Sekularisme Tak Pernah Menjaga Agama (Islam)*

Sungguh, jika mengamati kasus-kasus penistaan agama yang pernah terjadi, agama yang paling banyak mendapat penistaan adalah Islam. UU Penodaan Agama yang dijadikan dasar menjaga agama, masih tumpul dalam menangkal penistaan terhadap agama. Alhasil Islam selalu menjadi yang ternista dalam viralnya penghinaan agama.

Exit mobile version