Opini

Menista Agama Menjadi Biasa dalam Ranah Negeri Tak Bermabda

123
×

Menista Agama Menjadi Biasa dalam Ranah Negeri Tak Bermabda

Sebarkan artikel ini

Senyatanya kehidupan sekuler saat ini memang tidak pernah Menjaga Agama(Islam). Kehidupan sekuler terus menerus menjadikan seseorang memiliki pandangan yang berbeda tentang agama. Ada yang memandang agama bukan lagi sebagai pedoman hidup, dan ada juga yang berpandangan bahwa beragama menjadikan orang kolot, primitif, dan tidak maju. Alhasil dengan sudut pandang seperti ini, dianggaplah bahwa agama tidak lagi penting dan bukan lagi sesuatu yang suci dan harus dihormati. Saat agama dijadikan bahan candaan, sindiran, olok-olokan, narasi kebencian, hingga penistaan, pada akhirnya menjadi hal yang biasa saja.

Demikianlah atas nama liberalisme, kebebasan berekspresi dan berpendapat, menista agama menjadi lumrah saja. Sekulerisme tak pernah berniat melindungi sedikit pun agar agama tak ternista, yang ada memang sudah dasarnya sekulerisme sangat agresif memangkas agama secara jelas dan nyata.

*Paradigma Islam dalam Menjaga Agama*

Dalam sistem sekulerisme penistaan agama yang terjadi kesekian kalinya sejatinya mengindikasikan bahwa perangkat hukum yang ada tidak berefek jera bagi pelaku. Dengan sistem ini, dari kasus penistaan agama yang sudah pernah terjadi, terkadang tindakan hukum baru dilakukan jika kasus tersebut viral dan menjadi perbincangan publik. Padahal terkadang, para penista yang menebar kebencian terhadap Islam hanya cukup meminta maaf secara tertulis atau melalui media elektronik. Sudah banyak kasus penistaan yang mengandung ujaran kebencian hanya berakhir dengan permintaan maaf.

Berbeda dengan Islam. Dalam sistem Islam, agama adalah sesuatu yang wajib dijaga dan harus dimuliakan. Dalam sistem Islam, tujuan diterapkannya syariat Islam salah satunya adalah memelihara dan melindungi agama. Di dalam sistem Islam, negara tidak akan membiarkan para pelaku bebas menghina menista. Dengan sigap negara akan menerapkan sanksi tegas terhadap para pelaku agar bisa berefek jera bagi yang lainnya.

Sikap Khalifah Abdul Hamid saat merespons pelecehan kepada Rasulullah (saw.) merupakan gambaran ketegasan sikap dan kesigapan terkait penistaan agama. Saat terjadi pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw. beliau memanggil duta besar Prancis meminta penjelasan atas niat mereka yang akan menggelar teater yang melecehkan Nabi (saw.). Beliau berkata kepada duta Prancis, “Akulah Khalifah umat Islam Abdul Hamid! Aku akan menghancurkan dunia di sekitarmu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut!”.

Sungguh, ketegasan dan kewibawaan telah ditunjukkan oleh sikap pemimpin kaum muslim saat itu. Tanpa ketegasan umat akan terus terhina karena tidak ada yang menjaga agama ini dengan kelantangan dan keberanian yang militan. Dengannya syarak ditegakkan. Dengannya agama ini terlindungi.

Oleh karena itu, jika memang agama ini tidak ingin selalu dinista, seruan penegakan syariat Islam harus terus disuarakan agar umat memahami bahwa satu-satunya pilihan hidup terbaik saat ini dan seterusnya adalah diterapkannya syariat Islam di segala aspek kehidupan. Umat disadarkan bahwa tegaknya aturan kehidupan yang menyelamatkan agama hanya bisa jika ada naungan yang melindunginya. Naungan yang menyelamatkan dunia wal akhirah. Naungan Islam Kaffah dalam tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah.

Wallaahu a’laam bisshawaab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *