Opini

Memperingati Kelahiran Pancasila, Momen Instrospeksi Pejabat Negara

67
×

Memperingati Kelahiran Pancasila, Momen Instrospeksi Pejabat Negara

Sebarkan artikel ini

Oleh: Marginingsih, S.Pd

 

Sabtu, 1 Juni 2024 diperingati masyarakat Indonesia sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Peringatan ini ditetapkan untuk menghormati perjuangan pahlawan terdahulu dalam merumuskan dasar negara. Untuk menyambut peringatan ini Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) telah merilis logo Hari Pancasila 2024 untuk memeriahkan perayaannya. Melansir Pedoman Identitas Visual Harlah Pancasila 2024, logo Hari Lahir Pancasila 2024 adalah “Sandaya Taru” atau “Pohon Persatuan”. Logo ini mencerminkan sebuah persatuan, sikap gotong royong, dan kesetaraan. (detic.com, 31/05/2024)

Sandaya Taru atau Pohon Persatuan terinspirasi dari nilai Pancasila ketiga yakni Persatuan Indonesia yang dilambangkan Pohon Beringin. Pancasila diibaratkan sebagai pohon yang menjadi sumber kehidupan manusia. Selain itu, logo tersebut mengartikan bahwa Pancasila telah menjaga jiwa-jiwa setiap insan dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila membentuk karakter budi pekerti luhur dari generasi ke generasi.
Kita ketahui bersama bahwa Pancasila mempunyai nilai-nilai luhur yang menjadi jati diri bangsa Indonesia.

Lebih mendasar lagi bahwa Pancasila telah dijadikan dasar negara Indonesia. Sehingga setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara harus senantiasa didasari dengan nilai-nilai luhur Pancasila ini, yaitu: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. Persatuan Indonesia, 4 Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, 5. Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Membaca Kembali kelima sila Pancasila ini, agaknya saat ini kita dapati realita yang bersebrangkan dengan nilai-nilai luhur ini.

Pernyimpangan terhadap nilai-nilai Pancasila terjadi hampir di segala lini kehidupan, termasuk penyimpangan yang dilakukan oleh oknum pejabat negara yang harusnya menjadi orang terdepan yang mencontohkan pengamalan Pancasila.

*Kelakuan Pejabat Tidak Pancasilais*

Sepekan ini kita disajikan dengan proses peradilan kasus mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL)  dengan tuduhan penyalahgunaan dana operasi Menteri (DOM) dan pemerasan bawahan. Diketahui bahwa SYL telah menggunakan dana operasional Menteri (DOM) untuk kepentingan pribadi dan keluarga nya, termasuk membiayai kebutuhan skincare anak dan cucu nya. Tidak hanya itu, kasus ini pun dibumbui dengan hubungan terlarang antara SYL dan seorang biduan dangdut. Sungguh tidak pantas dan tidak Pancasilais.
Sebelum ini, kita juga dibikin tercengang dengan kasus korupsi di jajaran pertambang timah illegal dengan tersangkanya Harvey Moeis, suami dari artis Dewi Sandra. LSM lingkungan Walhi Bangka Belitung menilai kerugian perekonomian negara dalam kasus penambangan timah ilegal di wilayah itu lebih besar dari Rp271 triliun karena belum mengakumulasi kerusakan ekosistem di pesisir dan laut. (bbc.com, 2/04/2024).

Sungguh nilai korupsi yang fantastis.
Korupsi sudah menjadi budaya di lingkungan pejabat negara kita. Korupsi yang tersistem dan terstruktur ini pun semakin langgeng dan sulit untuk dibasmi. Bahkan di kalangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ketua KPK tahun 2023, Firli Bahuri terjerat kasus suap dan gratifikasi. Sungguh Ironis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *