Opini

Masa Depan Gen Z Suram: Potret Kapitalisme Sia-siakan Generasi Muda

80
×

Masa Depan Gen Z Suram: Potret Kapitalisme Sia-siakan Generasi Muda

Sebarkan artikel ini

 

Oleh Triana Amalia, S.Pd.
Aktivis Muslimah

Generasi muda Indonesia yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012, tengah dilanda isu sebagai kaum rebahan. Hal ini merambat pada berita viral mengenai 10 juta Gen Z menganggur. Pendapat dari Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah, mengatakan bahwa penyebab pengangguran itu karena tidak cocok antara pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan pasar. Pengangguran terbanyak disumbangkan dari lulusan SMK dan SMA yang terus didorong oleh pemerintah yakni membangun pendidikan dan pelatihan vokasi yang sesuai berdasarkan kebutuhan pasar agar terkoneksi antara pendidikan dan lapangan kerja. (media online Kumparan Bisnis, 20/05/2024)

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa penduduk Indonesia generasi Z berusia 15–24 tahun menganggur tanpa kegiatan. Lebih rinci lagi, anak muda yang masuk kategori NEET (not in employment, education, and training) ada di daerah perkotaan sebanyak 5,2 juta orang dan 4,6 juta di pedesaan.

Fenomena merebaknya pengangguran di kalangan Gen Z dinilai akan menjadi ancaman utama bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menganalisa data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS), bulan Februari tahun 2009, 2014, 2019, dan 2024 hasilnya menunjukkan adanya tren penurunan penciptaan lapangan kerja di sektor formal. (media online Kompas.com, 24/05/2024)

Berita-berita yang beredar seakan memojokkan Gen Z. Mereka adalah sekelompok pemuda yang hidup di tengah ilusi tontonan gaya hidup ideal ala kapitalisme. Fenomena pacaran, patah hati, hingga pergaulan bebas banyak memengaruhi produktivitas Gen Z.

Belum lagi, pembatasan usia di dalam lowongan kerja sektor formal yang menyulitkan para pemuda itu untuk mendapatkan kesempatan. Kemudian, setiap pamflet lowongan itu pasti meminta pengalaman kerja bagi pencarinya. Keadaan Gen Z tanpa pekerjaan ini, tentu akan berdampak negatif kepada negara, seperti: penerimaan pajak berkurang, pertumbuhan ekonomi terhambat karena tidak menyumbang konsumsi, menjadi beban masyarakat, menggagalkan komitmen Indonesia Emas 2045.

Inilah potret masa depan Gen Z yang suram.

Fokus negara yang menganut pemikiran sekuler kapitalisme lagi-lagi memandang pengangguran ini sebagai berkurangnya pendapatan pajak. Pemuda hanya dinilai dari sisi ekonomi saja. Hal ini akan membuat Gen Z makin tersudut dan membuktikan bahwa kapitalisme telah menyia-nyiakan generasi muda.

Akar masalah dalam fakta generasi muda Indonesia yang banyak menganggur ini, disebabkan penguasa yang mengizinkan pengelolaan sumber daya alam oleh asing atau swasta. Kondisi ini menjadikan tenaga kerja tidak akan terserap karena penyediaan pegawai atau buruh diserahkan kepada mekanisme pasar. Faktor kemalasan individu, cacat atau uzur, serta rendahnya pendidikan menyumbang pemicu pengangguran.

Tenaga kerja Indonesia didominasi oleh lulusan SD dan SMP sekitar 74 persen. Pada akhirnya, masyarakat mengetahui jutaan Gen Z tanpa pekerjaan adalah buah dari sistem kapitalisme. Cita-cita generasi muda bangsa pun menemui jalan buntu disebabkan oleh uang kuliah tunggal (UKT) yang melejit.

Kampus seharusnya menjadi tempat terbuka bagi setiap warga negara agar mendapat pendidikan layak. Kini, hanya bisa diperoleh bagi manusia yang kalangan atas saja. Permasalahan generasi muda ini tidak akan selesai jika ideologi kapitalisme masih digenggam erat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *