Opini

Listrik Mati di Sumatera, Aroma Kapitalisasi Sumber Daya Alam Kian Terasa

92
×

Listrik Mati di Sumatera, Aroma Kapitalisasi Sumber Daya Alam Kian Terasa

Sebarkan artikel ini

Oleh Fina Fadilah Siregar

Pemadaman listrik dengan waktu yang lama kembali terjadi. Pemadaman listrik kali ini menimpa sebagian wilayah Pulau Sumatera. Sejak Selasa (4/6/2024) hingga Rabu (5/6/2024), aliran listrik mulai dari Aceh hingga Lampung mengalami pemadaman bergilir dengan durasi yang bervariasi, mulai dari 10 jam, bahkan ada yang hingga 24 jam.

Padamnya aliran listrik tersebut terjadi karena adanya gangguan pada jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV Linggau-Lahat yang terjadi pada Selasa (4/6). Hal ini mengakibatkan terganggunya tak kurang dari 29.000 gardu distribusi yang memasok listrik pelanggan.

Pada Kamis (6/6/2024) dini hari, PLN melaporkan telah berhasil menormalkan kembali seluruh pasokan listrik yang menyuplai masyarakat di Provinsi Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Pasokan listrik di Provinsi Lampung juga dilaporkan telah pulih dan normal 100% pada Kamis (6/6/2024) pukul 00.59 WIB. Demikian pula, listrik di Riau dilaporkan telah pulih sepenuhnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengaku tak tahu menyebab listrik padam serentak di Pulau Sumatra. Dia juga belum memperoleh laporan dari PT PLN (Persero) ihwal kejadian yang membuat beberapa wilayah mengalami mati listrik dalam jangka waktu lama.

“Penyebab gangguan belum [diketahui], belum masuk laporan [dari PLN],” ujar Arifin dalam acara Media Briefing di Kantor Ditjen Migas, Jakarta, Jumat (7/6/2024). (Tirto).

Atas kejadian ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta PT PLN (Persero) untuk melakukan investigasi guna mengetahui penyebab dari pemadaman listrik tersebut. Sementara itu, sejauh ini belum ada pernyataan terbaru dari PLN mengenai penyebab utama gangguan pada SUTET 275 kV Linggau-Lahat.

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, menjelaskan pemerintah akan menguatkan kapasitas tenaga listrik di Sumatra yang sebelumnya mengalami mati daya. Penguatan kapasitas dilakukan dengan membangun sumber listrik cadangan. Menurutnya hal itulah yang membedakan dengan kondisi listrik di Jawa yang cepat dipulihkan apabila terjadi pemadaman atau korsleting.

“Tapi di Sumatra perlu ada penguatan kapasitas sehingga kalau terjadi sesuatu lagi mencari sumber-sumber mana yang bisa dilarikan ke sana. Itu bedanya, kalau di Jawa lebih banyak,” kata Moeldoko di Gedung Krida Bhakti, Jakarta Pusat, Jumat (7/6/2024). (Tirto).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *