Opini

Lagi Berbeda Idul Adha, Khilafah Tak Bisa Ditunda!!!

137
×

Lagi Berbeda Idul Adha, Khilafah Tak Bisa Ditunda!!!

Sebarkan artikel ini

Oleh: Lilik Solekah, SHI
(Ibu Peduli Generasi)

 

Miris, kembali terjadi perbedaan hari raya di kalangan umat Islam lagi di Idul Adha 1445 H/2024 M. karena ada perbedaan cara menentukannya. Padahal umat islam sedunia ini satu kitab dan satu keyakinan bahwa Allah pencipta langit dan bumi beserta isinya. Bukankah aturan itu juga satu?

Seperti yang telah telah diberitakan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama telah menetapkan bahwa Idul Adha 1445 H tahun ini jatuh pada hari Senin, 17 Juni 2024.

Bila Idul Adha adalah 10 Dzulhijjah, maka 9 Dzulhijjah-nya atau Hari Arafah, hari dimana jamaah haji wukuf di Arafah, dengan ketentuan ini mestinya akan jatuh sehari sebelumnya, yakni 16 Juni 2024.

Sementara pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengumumkan bahwa 1 Dzulhijjah jatuh bertepatan dengan tanggal 7 Juni 2024, maka Wukuf atau Hari Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada Sabtu, 15 Juni 2024.

Dengan demikian Idul Adha (10 Dzulhijjah) akan jatuh pada hari Ahad, 16 Juni 2024, bukan hari Senin, 17 Juni seperti ketetapan pemerintah Indonesia.

Yang lebih miris dan memprihatinkan lagi, Perbedaan yang terjadi bukan karena dalil syar’i, tetapi factor fanatisme dan nasionalisme. Apakah kita tidak menyadari bahwa nasionalisme itu sengaja diciptakan agar umat islam tersekat- sekat dan tidak bersatu? sehingga kaum kafir bisa dengan mudah melahap sedikit demi sedikit. Dan agar kaum muslimin tetap bisa dalam genggaman kafir laknatullah.

Selain itu penentuan tersebut juga tidak sesuai dengan dalil penentuan idul adha yang menyatakan mengikuti ketetapan Amir makkah. Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di Tanah Suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:
«اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»
Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah. (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *