Opini

Krisis Pangan Mengancam Indonesia

99
×

Krisis Pangan Mengancam Indonesia

Sebarkan artikel ini

Oleh Nur Hasanah, S.Kom
Aktivis Dakwah

 

Kondisi Pertanian Indonesia

Meskipun Indonesia penghasil beras terbesar ke empat di dunia, namun Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan beras untuk rakyatnya secara mandiri. Pemerintah telah melakukan impor beras ke beberapa negara setiap tahunnya. Dalam tujuh tahun terakhir, tahun 2023 menjadi tahun yang dianggap mengkhawatirkan karena jumlah impor berasnya terhitung sangat tinggi. Di tahun 2023, Indonesia telah impor beras sebanyak 3.062.857,6 ton. Jumlah impor beras yang meningkat tajam, didasari oleh kondisi alam. Indonesia mengalami musim panas yang panjang akibat el nino.

Saat ini, produksi padi sangat bergantung kepada alam, sehingga sangat rentan untuk kestabilan persediaan pangan. Sementara pertumbuhan penduduk semakin tahun semakin meningkat, padahal jumlah lahan semakin berkurang sehingga hasil panen padi pun semakin berkurang setiap tahunnya. Kondisi ini sangat mengkawatirkan bila tidak serius ditangani.

Dilihat dari kondisi produksi padi di Indonesia, berdasarkan data dari BPS, tahun 2012 volume produksi padi nasional mampu mencapai 69,05 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlahnya kemudian sempat meningkat hingga mencapai 81,07 juta ton GKG pada 2017. Namun, 2018 produksi padi anjlok menjadi 59,02 juta ton GKG, pada 2019 kembali menurun menjadi 54,6 juta ton GKG.

Pada 2020 produksinya naik tipis menjadi 54,64 juta GKG, tapi pada 2021 turun lagi menjadi 54,41 juta ton GKG. Kemudian pada 2022 naik tipis lagi menjadi 54,74 juta ton GKG. Pada 2023, produksi padi turun lagi sekitar 53,63 juta ton gabah kering giling (GKG).

Usaha Pemerintah Menyelesaikan Masalah Pangan

Konversi gabah kering giling (GKG) menjadi beras sebesar 62,74 persen. Sehingga pada tahun 2023 dengan total produksi 53,63 juta ton GKG, maka menghasilkan beras sebesar 33,78 juta ton. Sedangkan kebutuhan konsumsi beras nasional sebanyak 35,3 juta ton per tahun. Sehingga kebutuhan beras nasional minus 1,52 juta ton di tahun 2023 lalu.

Kekurangan hasil produksi beras terjadi setiap tahun. Untuk menyikapi kekurangan tersebut, pemerintah melakukan impor beras ke beberapa negara diantaranya, India, Thailand, Vietnam, Pakistan, Myanmar, dan lain-lain.

Ada keinginan pemerintah untuk bisa melakukan swasembada pangan. Usaha untuk mencapai swasembada pangan, telah dilakukan dari mulai masa pemerintahan Soeharto sampai dengan pemerintahan Joko Widodo. Namun usaha tersebut, terus mengalami kegagalan.

Kerjasama Proyek Sawah dengan Cina

Dilansir dari VOA.com tanggal 19 April 2024, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah akan menggandeng Cina untuk menggarap sawah di Kalimantan Tengah.

Terdapat lahan seluas satu juta hektare di Kabupaten Pulang Pisang, Kalimantan Tengah yang akan dikembangkan untuk kerjasama sawah tersebut. Luhut meyakini, jika proyek ini berhasil, maka Indonesia pun akan mencapai swasembada beras di masa depan.

Namun keberhasilan rencana tersebut, diragukan oleh beberapa pengamat pertanian. Diantaranya, Khudori, seorang pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI). Ia berpendapat bahwa, pemerintah perlu berdiskusi terlebih dahulu dengan para pakar pertanian nasional untuk mengurangi risiko kegagalan. Secara iklim, Cina memiliki empat musim, tentu akan sangat berpengaruh terhadap penerapan teknologi. Benih dari Cina pun butuh waktu untuk proses adaptasi, baik adaptasi iklim, sifat tanah, dan hama penyakit.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan bahwa, penggunaan lahan sebanyak 1 juta hektare di Kalimantan Tengah, tidak masuk akal dan pasti gagal karena terlalu luas. Kelemahan lahan di Kalimantan Tengah adalah gambut sehingga perlu diperhatikan proses kelola airnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *