BeritaOpiniOpini

Konferensi Pariwisata PBB 2024: Perempuan Berdaya, Benarkah Jaminan Sejahtera?

116
×

Konferensi Pariwisata PBB 2024: Perempuan Berdaya, Benarkah Jaminan Sejahtera?

Sebarkan artikel ini

Oleh Intan A. L

Pegiat Literasi

 

“Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.” (Syaikh Shaleh al Fauzan)

Kandungan nasihat di atas mendorong kita untuk memperhatikan sosok wanita sebagai ibu. Betapa besar perannya untuk menyiapkan generasi selanjutnya sehingga mempersiapkan ibu yang berkualitas seperti menyiapkan generasi berkualitas. Di sisi lain, memasuki era yang semakin berkembang, peran perempuan sebagai madrasah pertama anak semakin mundur. Tarik menarik peran perempuan untuk keluar dari ranah domestik semakin masif. Hal ini nampak pada penyelenggaraan Konferensi Pariwisata PBB Kedua tentang Pemberdayaan Perempuan di Asia dan Pasifik, menggagas peran aktif perempuan dalam rangka pemberdayaan perempuan. Konferensi ini dianggap sebagai jembatan demi lahirnya upaya kolektif, sebagai solusi yang memungkinkan pariwisata menjadi wadah untuk pemberdayaan seluruh perempuan (www.suara.com, 02/05/2024).

Keterlibatan perempuan dalam dunia pariwisata ini dianggap sebagai upaya mewujudkan kesetaraan gender. Ide ini semakin lumrah sejalan dengan era globalisasi yang meluas. Adanya anggapan bahwa kesejahteraan wanita akan terjamin apabila perannya dalam ranah publik sama leluasa sebagaimana kaum adam. Sesungguhnya pendapat seperti ini sejalan dengan sistem kapitalisme yang berorientasi pada materi. Kesejahteraan perempuan dijaminkan pada tercukupinya materi semata melalui sepak terjang perempuan di luar rumah. Perempuan didorong beraktualisasi dengan tujuan berpenghasilan agar tidak menjadi beban ekonomi. Sekaligus sebagai bukti berkembangnya narasi kesetaraan gender. Inilah hakikat sistem ekonomi kapitalisme bagi perempuan yang dijadikan tumbal demi kesejahteraan.

Kesejahteraan yang dikejar dalam hidup ini merupakan hal manusiawi. Persoalannya jatuh kepada cara meraih kesejahteraan itu sendiri. Kapitalisme memberi keleluasaan pada negara untuk mengembangkan sektor non strategis seperti pariwisata namun sektor strategis seperti sumber daya alam (SDA) malah dikuasai negara penjajah. Apalagi menjadikan perempuan untuk berperan aktif dalam pengembangannya adalah hal yang keliru. Sebab upaya itu akan merusak fitrah perempuan dan membahayakan nasib anak-anaknya. Baik karena nihilnya peran ibu di rumah ataupun timbulnya perang budaya atas perkembangan pariwisata yang menarik berbagai pengunjung mancanegara tanpa kontrol yang jelas dan tegas dari penguasa.

Persoalan kesejahteraan perempuan adalah salah satu polemik sistemis yang diakibatkan penerapan sistem kapitalisme sekuler. Negara kapitalis hanya berlaku sebagai fasilitator bukan penjamin. Alhasil, negara lepas tangan dan menyerahkan pencapaian kesejahteraan pada pasar bebas. Itulah sebabnya perempuan didorong keluar rumah untuk ikut bersaing dan menjadi bagian dari pelaku pasar bebas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *