Opini

Kesuksesan Strategi Politik Pendidikan Islam

73
×

Kesuksesan Strategi Politik Pendidikan Islam

Sebarkan artikel ini

By : Lisa Agustin
Pengamat Kebijakan Publik

 

Pemkot Balikpapan bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Balikpapan menggelar seminar dan workshop karir bertajuk “Unlocking Gen-Z Potentials” di Auditorium STIE Balikpapan, Rabu (22/5/2024).

Seminar ini menghadirkan 320 peserta dari kalangan mahasiswa dan SMK se-Kota Balikpapan.

Kegiatan ini mengangkat tema “Inspirasi dan Langkah Praktis Membangun Bisnis dan Karir yang Sukses”.

Peserta seminar diharapkan bisa menajamkan pola pikir dan mengeksplorasi potensi melalui kegiatan ini.

Sehingga dapat menjawab tantangan dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil yang berdaya saing.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Bappeda Litbang Kota Balikpapan Murni mengatakan, sebagai upaya untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dengan kolaborasi dan sinergi bersama dunia usaha, media, perusahaan. Yakni dengan membentuk Tim Koordinasi Speaking Vokasi (TKDV) dalam memperkuat vokasi di Kota Balikpapan.

“Dengan adanya TKDV menjadi langkah maju dalam mengurangi pengangguran dan meningkatkan kompetensi di Balikpapan,” ujarnya. (web.balikpapan.go.id, 24/5/2024)

Arah Pendidikan Kapitalisme

Mencermati pemberitaan diatas nampak nyata bahwa arah pendidikan generasi saat ini menggunakan paradigma kapitalisme-sekuler. Arah pendidikan yang dikembangkan sekolah dan perguruan vokasi yaitu menghasilkan lulusan siap pakai dengan tujuan agar terpenuhinya kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dunia kerja (DUDIKA).

Hal itu terjadi karena sejak awal pendidikan vokasi dibangun menggunakan paradigma yang salah. Yakni, ketika pendidikan atau ilmu (termasuk vokasi) dipandang semata-mata sebagai komoditas yang diperdagangkan. Oleh karenanya, peruntukan atau tujuan pendidikan bergantung pada selera pasar (permintaan).

Saat ini, ketika dunia industri tengah merajai perekonomian, maka pendidikan pun akhirnya diselenggarakan untuk memenuhi keinginan korporasi. Parameter kemajuan SDM nya dilihat dari berkurangnya pengangguran dan meningkatnya kompetensi. Sehingga tidak masalah output pendidikan menjadi buruh di perusahaan kapitalis, yang penting tidak pengangguran.

Wajar saja yang menonjol dalam pendidikan ala kapitalisme sekuler ini adalah pendidikan untuk mencetak tenaga terapan (buruh terdidik) bagi kepentingan industri. Bahkan riset yang diciptakan pun dihilirisasi untuk kepentingan industri.

Demikianlah nasib pendidikan dalam sistem kapitalisme. Bahkan negara pun tidak berdaya di hadapan korporasi. Miris! Apa yang dikatakan kemajuan atau kesuksesan ternyata bukanlah secara hakiki.

Dan hasilnya saat ini sangat nyata akibat dari pendidikan dijajah sistem kapitalisme liberal, output hanya mengejar material. Mereka menjadi budak korporasi.

Generasi pemuda hari ini hanya bisa bekerja tanpa idealisme membangun dan memimpin bangsa menuju ke arah lebih baik dalam keridaan Allah.

Arah Pendidikan Islam

Islam sebagai pandangan hidup yang diturunkan oleh Allah SWT melalui risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw memiliki arah pendidikan yang berbeda dengan kapitalisme.

Mengutip dari artikel Ath-Thariq (Jalan Baru Islam) yang ditulis Syekh Ahmad Athiyat sebagai berikut.

Negara Islam telah mencurahkan perhatiannya pada pendidikan sejak masa-masa pertama kemunculannya. Hal itu tampak jelas ketika Rasulullah saw. Menjadikan tebusan untuk membebaskan satu orang tawanan Quraisy setelah perang Badar adalah mengajar sepuluh orang kaum muslim.

Perhatian akan pendidikan dan berbagai macam ilmu pengetahuan pun makin bertambah seiring majunya Negara Islam dan mencapai puncaknya ketika Eropa masih mendengkur dalam tidur yang panjang dan masih berenang dalam samudra kebodohan dan kegelapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *