Opini

Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas, Realitas Atau Utopi?

81
×

Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas, Realitas Atau Utopi?

Sebarkan artikel ini
Oleh Dewi Rahayu Cahyaningrum
Komunitas Muslimah Rindu Jannah Jember
Keluarga adalah institusi terkecil dan terpenting dari masyarakat bahkan dalam institusi sebuah negara yang terdiri atas suami sebagai kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul. Keluarga bukan hanya sekadar status sejak lahir. Bukan juga cuma tempat berpulang atau persoalan siapa dari mereka yang lebih dekat. Namun, kehadiran keluarga di tengah kehidupan merupakan sesuatu yang lebih besar dan berharga.
Hubungan dalam sebuah keluarga akan semakin erat di setiap anggota karena terbentuknya ikatan emosional antar individu anggota keluarga. Semakin setiap anggota keluarga menghargai kehadiran salah satu dari mereka, maka akan semakin dalam pula makna keluarga yang dirasakan.
Sampai-sampai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, keluarga merupakan penentu dan kunci dari kemajuan suatu negara. Maka dari itu, pemerintah saat ini tengah bekerja keras untuk menyiapkan keluarga Indonesia yang berkualitas dan memiliki daya saing.
Hal tersebut dikatakannya saat menyampaikan pidato mewakili Presiden RI Joko Widodo pada puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 Tahun 2024 dengan tema “Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas”, yang diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Lapangan Simpang Lima Semarang, pada Sabtu (29/6/2024).
“Di dalam melihat masalah-masalah  di Indonesia, bisa kita lihat dari unit terkecilnya yaitu keluarga. Keluarga sebagai unit terkecil sebuah bangsa. Kalau keluarganya bagus maka negara akan bagus. Keluarga menentukan kualitas sumber daya manusia,” jelasnya (media online kemenkopmk.go.id, 30/6/2024).
Kepala BKKBN, dokter Hasto Wardoyo juga menekankan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat, tempat bernaung, saling mencintai, dan melindungi. Dan dari keluarga inilah akan dilahirkan putra putri generasi penerus dan penentu masa depan warga. Keluarga juga berperan dalam mewariskan nilai-nilai luhur kehidupan kepada generasi muda penentu pembangunan bangsa dan negara,” kata dokter Hasto.
“Mari kita jadikan Harganas kali ini menjadi momentum penting bagi kita semua untuk menghidupkan kembali fungsi keluarga,” tambahnya. Dia mengajak para orangtua, tokoh-tokoh masyarakat, pihak pemerintah dan swasta untuk sama-sama fokus membangun keluarga. Menurut Hasto, untuk membangun negara harus dimulai dari keluarga (media online liputan6,29/6/2024).
Namun, pada kenyataannya keluarga Indonesia dalam ancaman serius. Hari ini fungsi keluarga tidak bisa terwujud dengan baik, yang nampak adalah berbagai problematika serius pada keluarga seperti tingginya kemiskinan, stunting, KDRT, terjerat pinjol, perceraian, bahkan tidak adanya ketahanan, generasi yang lemah, kekerasan yang merajalela. Semua itu akibat banyaknya kebijakan negara yang mengakibatkan masalah pada keluarga.
Kebijakan yang ada tidak mampu menghentikan wadah kerapuhan keluarga. Semua permasalahan yang ada ini adalah beberapa potret hasil dari pemberlakuan sistem kapitalis sekuler hari ini.  Selain itu, definisi “Generasi Emas”  yang akan diwujudkan juga tidak mengalami kejelasan, bahkan berorientasi pada duniawi.  Maka peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 Tahun 2024 hanya sekedar seremonial karena berbagai hal yang kontradiktif pada kenyataannya.
Kemudian akan kemana kita hendak mencari rujukan untuk mendapatkan gambaran keluarga yang berketahanan dan berkemampuan mencetak generasi unggul ? Ternyata, memberlakukan Islam dalam hukum keluarga patut menjadi i’tibar/pelajaran bagi kita semua. Dan Islam sendiri memiliki gambaran keluarga ideal yang berorientasi pada akhirat tanpa melupakan dunia.
Pentingnya penanaman Ideologi Islam dalam keluarga
Keluarga tempat menyatunya dua insan yang memiliki tujuan, visi dan misi bersama dalam menjalani hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Islam sebagai diin sempurna memiliki konsp mengenai keluarga dengan sangat khas dan istimewa. Keluarga bahkan memiliki peran utama dan strategis yang tidak bisa dianggap remeh dalam proses mendidik anak, bahkan umat manusia.
Keluarga lebih kuat pengaruhnya dari sendi-sendi yang lain. Hakikatnya, sejak awal masa kehidupannya seorang manusia lebih banyak mendapatkan pengaruh dari keluarga, salah satunya pendidikan dalam keluarga yang merupakan pendidikan sepanjang hayat. Pembinaan dan pengembangan kepribadian serta penguasaan tsaqafah Islam (Ilmu Islam) dilakukan melalui pengalaman hidup sehari-hari dan dipengaruhi oleh sumber belajar dalam keluarga terutama ayah dan bunda.
 Keluarga adalah madrasah atau tempat pembelajaran anggota keluarga terutama pendidikan yang dilakukan orangtua kepada putra putrinya. Allah SWT berfirman :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at Tahrim : 6)
Oleh karena itu para orangtua mempunyai kewajiban memberikan pembelajaran dan pendidikan Islam sejak dini dalam keluarga agar anggota keluarga menjadi orang yang bertaqwa dan berilmu. Anak-anak tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga harus menjadi pribadi yang shalih, penyejuk pandangan dan hati kedua orangtua dan masyarakat bahkan negara.
Karena itu penanaman ideologi Islam harus dimulai sejak dini kepada anak-anak. Sehingga ideologi Islam akan dijadikan sebagai bekal dan pijakan oleh mereka dalam mengarungi kehidupannya. Dan sudah barang tentu sebagai orangtua harus terus belajar Islam hingga akhir hayat dan menyampaikannya kepada anak-anak saat membersamainya. Dengan begitu mereka selalu menjadikan ideologi Islam sebagai landasan dalam berperilaku dan mengarahkan kecenderungan mereka sehingga terbentuk syakhshiyyah islaamiyah (kepribadian islami).
Beberapa cara yang patut diupayakan adalah:
1. Menanamkan aqidah Islam sejak dini.
Islam mengajarkan kepada kita agar menjadikan aqidah Islam sebagai benteng yang melindungi keluarga dari pemikiran-pemikiran dan ideologi kufur yang bertentangan dengan Islam, seperti Kapitalisme dan Sosialime Komunisme. Menanamkan aqidah Islam sejak dini kepada anak-anak adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama pada diri anak.
Rasulullah saw. bersabda: Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Ibu dan bapaknyalah yang menjadikan dirinya Yahudi, Nasrani dan Majusi.” (HR Bukhari)
Dengan iman yang kuat, setiap anggota akan memahami bahwa tujuan hidupnya semata untuk beribadah kepada Allah SWT, tidak mudah terbujuk oleh segala sesuatu yang Allah larang.
2. Menjelaskan hanya ideologi Islam yang benar.
Para orangtua wajib menjelaskan kepada anak-anak bahwa ideologi Islam adalah istimewa, sempurna, paripurna dan indah. Islam satu-satunya ideologi yang bersumber dari wahyu Ilahi, datang dari Al Khalik Al Mudabbir, penggenggam jagat raya dan isinya.
Ideologi Islam merupakan jalan terang yang allah berikan, yang mendapat jaminan langsung dari sang Pencipta. Hal ini berbeda dengan ideologi lain yaitu Kapitalisme dan Sosialisme Komunisme yang merupakan buatan manusia yang hanya berlandaskan hawa nafsu semata, lemah dan terbatas.
3. Mengungkapkan fakta sejarah bahwa ideologi Islam mensejahterakan umat manusia.
Umat Islam harus mengungkap keunggulan ideologi Islam secara faktual kepada anak-anak sehingga anak-anak semakin yakin bahwa ideologi Islam adalah benar. Ideologi Islam telah menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban manusia ketika diterapkan selama berabad-abad lamanya. Banyak bukti historis menunjukkan kemajuan peradaban Islam mulai dari bidang politik, ekonomi, sains, tehnologi dan lain sebagainya.
Islam telah mampu mensejahterakan, memberikan rasa nyaman dan kebahagiaan bagi umat manusia, bahkan peradaban Islamlah yang memberikan sumbangsih besar atas kemajuan Barat saat ini.
4. Menjelaskan ideologi Kapitalisme dan Sosialisme Komunisme bertentangan dengan ideologi Islam dan harus ditolak.
Sebagai orangtua harus menjelaskan bahwa ideologi selain Islam adalah ideologi yang bertentangan dengan Islam sehingga harus ditolak. Orangtua harus menjelaskan bahwa Kapitalisme dan Sosialisme komunisme adalah ideologi yang rusak dan cacat dari akarnya, karena tidak sesuai dengan akal dan fitrah manusia.
Ideologi Kapitalisme lahir dari aqidah sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan serta menjadikan manfaat sebagai azasnya. Kebebasan menjadi hal yang diagung-agungkan oleh ideologi Kapitalisme dan materi menjadi tujuannya.
Ideologi Sosialisme komunisme meniadakan peran Sang Pencipta dalam kehidupan manusia serta tidak mengakui kehidupan sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Hal ini membuktikan bahwa ideologi Sosialisme komunisme juga tidak sesuai dengan akal dan fitrah manusia
5. Membiasakan anak terlibat dengan syariah Islam.
Setiap anak harus dikenalkan dengan syariah Islam sejak dini, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : ” Perintahlah anak-anakmu agar mendirikan sholat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun dan pukullah karenanya tatkala mereka telah berumur sepuluh tahun.”
Mulai dengan membiasakan sholat dan ibadah lainnya, diiringi dengan mengenalkan hukum-hukum syariah lainnya seperti cara berpakaian sesuai syariah, larangan mencuri, mengambil hak orang lain. Dan yang berkaitan dengan akhlak dan adab seperti berbakti kepada orangtua, sayang kepada orang lain, jujur, berani karena benar, bersabar, tekun bekerja, makan dan minum dengan tangan kanan, mengucapkan salam, menjaga kebersihan dan lain sebagainya.
6. Membiasakan anak menghadiri majelis ilmu hingga anak paham akan Islam kaffah.
Langkah yang paling mudah untuk mewujudkan anak paham akan Islam kaffah adalah istiqamah menghadiri majelis-majelis ilmu yang membahas tentang Islam kaffah, kemudia dipahami dan didakwahkan ke tengah-tengah umat. Ini akan menjadi benteng yang kokoh lagi tangguh agar tetap teguh di jalan Islam.
Butuh Sistem Politik yang Kondusif 
Penanaman ideologi Islam dalam keluarga harus adanya sistem yang mendukung. Sebab bagaimanapun kuatnya kita memproteksi keluarga dengan ide Islam dan pembinaan yang intensif kepada anak-anak, jika sistem yang berlaku di tengah kehidupan keluarga dan masyarakat tidak menggunakan aturan Islam, maka sulit bangunan keluarga yang kokoh bertahan.
Oleh karena itu, penataan kehidupan yang benar berkaitan dengan semua masyarakat sangat diperlukan. Hanya dengan politik Islam semua hal tersebut dapat terwujud. Sistem politik Islam memiliki kemampuan untuk memberikan solusi atas semua persoalan, baik persoalan individu, keluarga, masyarakat bahkan negara sekalipun.
Wallahu’alam Bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *