Opini

Kelaparan Akut Mengglobal, Kok Bisa ?

58
×

Kelaparan Akut Mengglobal, Kok Bisa ?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Aisyah Abdullah

(pegiat literasi)

Bumi sebagai tempat manusia hidup dan Allah pun memberikan kekayaan yang melimpah ruah di muka bumi ini. Tujuannya agar manusia bisa melanjutkan hidupnya sebagai pengelola bumi. Namun realitasnya sebagian besar manusia yang ada diseluruh dunia dilanda kelaparan akut.

Dilansir dari CNBC Indonesia- Berdasarkan laporan Organisasi Pangan Dunia atau FAO di tahun 2023 tercatat sebanyak 282 juta orang di 59 negara mengalami tingkat kelaparan akut yang tinggi. Dan jumlah orang kelaparan meningkat di tahun 2024 sebanyak 24 juta dari tahun sebelumnya.

Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya cakupan laporan tentang konteks krisis pangan serta penurunan tajam dalam ketahanan pangan terutama yang berada di jalur Gaza dan Sudan.

Sekertaris Jendral PBB, Antonio Guterres mengatakan akan sangat penting mengubah sistem pangan dan mengatasi penyebab kerawanan pangan dan kekurangan gizi. Website FAO, Sabtu (04/05/24).

Persoalan kelaparan atau pangan bukanlah persoalan yang tabu. Namun persoalan kelaparan sudah menjadi persoalan yang terus berulang kembali
terjadi dan tidak pernah usai meski berbagai starategi yang dilakukan pemerintah untuk mengatasinya.

Mengapa persoalan kelaparan tidak pernah berakhir di dunia saat ini?
Sejatinya jika kita jeli untuk melihat bahwa ini adalah hasil dari penerapan sistem kapitalisme global di dunia.

Dimana sistem kapitalisme telah mengizinkan sebagian besar kekayaan alam di kuasai oleh segelintir orang saja.
Sistem ini tidak mengakui kepemilikan umum atau publik sebaliknya mengakui kebebasan berkepelilikan. Walhasil siapa yang memiliki modal besar maka diberi jalan untuk menguasai dan mengelola SDA yang mana itu milik rakyat (publik).

Dengan konsep kapitalismenya pula telah membuat sebagian besar umat manusia sulit untuk mendapatkan atau mengakses kebutuhan pokoknya berupa pangan. Adaikata diberi akses masyarakat pun harus membayar dengan jumlah upah yang besar. Sebab, kebebasan berkepelikan SDA oleh pihak pemilik modal meniscayakan kapitalisasi yang berorientasi pada keuntungan atau bisnis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *