Opini

Kebutuhan Rakyat Terusik, Bahan Pokok Naik

68
×

Kebutuhan Rakyat Terusik, Bahan Pokok Naik

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nia Umma Zhafran

Meroketnya harga bahan pangan pokok seolah menjadi tradisi setiap menjelang hari besar keagamaan. Seperti yang terjadi di tiga pasar tradisional sekitar bandung raya, yakni Pasar Cileunyi (Kabupaten Bandung), Pasar Kosambi (Kota Bandung), dan Pasar Tanjungsari (Kabupaten Sumedang)terlihat hampir semua harga komoditas pangan pokok mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Komoditas yang mengalami kenaikan tertinggi di ketiga pasar tersebut adalah bawang merah. Rata-rata kenaikan sebesar Rp5.000 per kilogram, dari Rp52.000 menjadi Rp57.500 per kilogram. Menurut Andi, seorang penjual di pasar kab. Bandung menjelaskan bahwa kenaikan tidak hanya terjadi pada komoditas bawang merah, tetapi juga pada sayur mayur seperti wortel, kol, dan cabai yang juga mengalami kenaikan terus. Kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) juga merambat pada komoditas daging, termasuk daging ayam ras dan daging sapi. Berdasarkan informasi dari distributor, bahwa kelangkaan stok dan jarangnya pengiriman menjadi penyebab utama kenaikan harga.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat telah menganggarkan Rp3,1 miliar dalam program Operasi Pasar Bersubsidi (OPADI) yang akan digelar menjelang Idul Adha 2024 untuk menekan kenaikan harga kebutuhan pokok yang bisa berdampak pada inflasi. Anggaran tersebut digunakan untuk mensubsidi paket sembako bagi masyarakat. OPADI digelar untuk membantu masyarakat menjelang hari besar keagamaan.

Persoalan kenaikan harga pokok menjelang hari raya merupakan prediksi klasik yang menjadi siklus dalam kehidupan setiap tahunnya. Berbagai langkah antisipasi Pemerintah tetap tak mampu menahan laju kenaikan harga pokok. Menurut Ketua Ikatan Pedagang Pasar Pasar Indonesia (IKAPPI), salah satu alasan kenaikan harga komoditas pangan jelang hari- hari besar keagamaan terjadi karena meningkatnya belanja masyarakat. Dimana masyarakat pada umumnya belanja di pasar dalam jumlah yang lebih banyak untuk persediaan memjelang hari raya dibandingkan hari biasanya. Nah, dalam teori ekonomi kapitalisme, apabila permintaan naik, harga pun ikut naik.
Dilaporkan dari hasil penelitian Engkus ( 2017), beberapa penyebab kenaikan harga menjelang hari raya, adalah hukum permintaan dan penawaran, penimbunan barang, kinerja pasokan yang terganggu, dan gaya hidup masyarakat yang lebih konsumtif.

Penimbunan barang bukan hal aneh dalam negara yang menganut sistem Kapitalisme. Hal ini terjadi karena adanya permainan pelaku pasar. Sistem ini hanya memikirkan asas manfaat yang berupaya mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Masyarakat dipandang sebagai pasar yang berpotensi dalam meraih keuntungan tanpa memikirkan dampak buruk halal-haram atau banyak orang yang merugi.

Kapitalisme menjadikan peran negara sebatas regulator. Dimana peran negara lumpuh sebagai pelayan rakyat yang seharusnya mengedepankan kepentingan masyarakat. Adapun kebijakan yang dikeluarkan seakan setengah hati, seperti adanya subsidi pangan tapi dengan kuota terbatas juga banyak keluhan dari masyarakat yang salah sasaran. Seharusnya negara mengantisipatif agar tidak ada gejolak harga dan masyarakat mudah mendapatkan kebutuhannya.

Sejatinya, fenomena yang terus terjadi ini menunjukkan kegagalan negara dalam menjaga stabilitas harga dan menyediakan pasokan yang cukup sesuai kebutuhan masyarakat.

Berbeda dengan peran negara dalam Islam. Peran negara adalah pelayan rakyat yang mewajibkan hadir secara penuh dalam mengurusi kemaslahatan umat. Negara akan bertindak tegas kepada pihak-pihak yang mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Apabila terjadi permasalahan, negara akan segera menuntaskannya.

Karena, Islam memandang bahwa masalah pangan adalah hal yang perlu mendapat perhatian khusus yang wajib dipenuhi per individunya. Selain itu, pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah jika ada rakyatnya yang kelaparan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *