Opini

Kapitalisasi Air, Mengalirnya Kerakusan di Tengah Dahaga Rakyat

206
×

Kapitalisasi Air, Mengalirnya Kerakusan di Tengah Dahaga Rakyat

Sebarkan artikel ini

Di saat air tak mengalir untuk rakyat, proyek-proyek berbau kapitalisasi airyang menambah beban masyarakat kian mengalir. Permasalahan terkait terbatasnya sumber air tidak menjadi perbincangan utama. Alih-alih mengurai problem terkait dengan pengadaan air yang mudah bagi rakyat, pembangunan yang ada malah abai terhadap keseimbangan ekosistem yang berakibat berkurangnya lahan hijau karena dialihfungsikan, yang berkorelasi dengan hilangnya daya ikat terhadap yang akhirnya kekeringan dan banjir pun tak terhindarkan.

Hal ini juga diperberat dengan berbagai kapitalisasi di bidang industri serta buruknya perilaku masyarakat yang berakibat pada rendahnya kualitas air di negeri ini. Pencemaran oleh logam berat dan juga sampah rumah tangga telah menurunkan kualitas kelayakan air.

Tragisnya, negara yang seharusnya menyelesaikan permasalahan buruknya kualitas air tersebut secara tuntas dan mandiri, kemudian memperbaiki pengelolaannya yang terjadi adalah menawarkannya kepada korporasi, proyek-proyek investasi di sektor air di ajang WWF.

Konon, disebutkan bahwa proyek strategis senilai US$9,6 miliar atau Rp154 triliun telah diseleksi oleh Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas). Keniscayaan skema investasi yang ada tak akan lepas dari profit. Pelayanan terhadap rakyat menjadi tiada. Jika ada pun, maka rakyat tak mendapatkannya secara cuma-cuma. Kapitalisasi selalu menghantui, dahaga rakyat pun tak terpenuhi.

Paradigma Islam Terkait Air

Sejatinya air tersedia melimpah di bumi Allah ini gratis. Namun saat kapitalisme mencengkeram bumi, air menjadi ajang bisnis tiada henti.

Sekalipun hasil kesepakatan WWF seolah merupakan hal yang baik dan membawa kemaslahatan untuk rakyat, di mana dengan adanya proyek SPAM kebutuhan domestik (rumah tangga) akan air minum berkualitas dan terjangkau serta berkesinambungan selama 24 jam akan terpenuhi. Juga dikutip dari Sahabat PU 13/5/2022, proyek ini pun dapat meningkatkan perbaikan kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan air bersih.

Sayang beribu sayang, rakyat tetap harus tetap pecahkan pundi untuk mendapat air secara pasti. Rakyat buntung namun perusahaan, investor, dan pengusaha yang terlibat dalam proyek tersebut untung.

Kondisi ini tak akan terjadi jika paradigma Islam terkait air direalisasi. Dalam Islam rakyatlah pemilik sah air yang ada di bumi pertiwi ini. Dalam pandangan Islam, air yang melimpah adalah harta milik umum.

Rasulullah saw. bersabda,
اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ في ثلَاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْماَءِ وَالنَّارِ
“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Rakyat berserikat dalam air sehingga tidak boleh seorang pun yang menguasainya. Negara wajib mengelola air hingga layak dikonsumsi dalam segala kemanfaatannya dan mengalirkannya ke rumah rakyat dengan mudah tanpa birokrasi yang menyulitkan.

Dalam Islam negara juga wajib menjaga kelestarian sumber air sehingga kelayakan dan kesinambungannya bisa teratasi. Paradigma pembangunan pun dilaksanakan berdasarkan syariat Islam, bukan pembangunan ala kapitalisme yang menuhankan materi dan abai terhadap kelestarian lingkungan, sehingga dengan paradigma ini ketersediaan air sungguh niscaya dengan kualitas terbaiknya untuk rakyat.

Tentunya untuk ketersediaan ini tak luput dari anggaran yang ada. Luarbiasanya dalam sistem Islam, pendanaan untuk memproses dan mengalirkan air ke rumah warga, baitulmal akan memenuhinya. Alhasil rakyat tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam untuk mengakses layanan air bersih. Karena sekalipun negara dibolehkan menetapkan tarif bagi rakyat untuk memperoleh air bersih, tarif yang ditentukan tidak memberatkan rakyat, harus terjangkau oleh rakyat. Keuntungan yang didapat dikembalikan untuk rakyat dalam berbagai fasilitas. Demikianlah sistem Islam mewujudkan pengaturan air. Tak ada kapitalisasi yang merenggut hak asasi. Yang ada adalah terwujudnya pemenuhan kebutuhan terbaik bagi rakyat tanpa syarat yang menjerat.

Wallaahu a’laam bisshawaab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *