Opini

Judi Online Mewabah, ASN Harus Waspada

78
×

Judi Online Mewabah, ASN Harus Waspada

Sebarkan artikel ini

Oleh : Supartini Gusniawati, S.Pd.

 

Di tengah pesatnya teknologi digital, dampak sosial informatika harus diwaspadai oleh semua pihak terutama dari sisi dampak negatifnya. Setelah maraknya pinjol (pinjaman online), kini kita dihadapkan pula dengan “Judol” ( Judi Online) yang makin hari makin meresahkan. Dalam digitalisasi, tidak sedikit judol menyusup dalam bentuk game (permainan) yang mudah di akses oleh berbagai kalangan.

Kini, pihak-pihak yang terjerat judol bukan hanya menyasar Gen Z, melainkan sudah merambah ke kalangan Abdi Sipil Negara (ASN) termasuk di dalamnya PNS dan PPPK. Diakui oleh Budi Arie Setiadi sebagai Menkominfo, mengakui bahwa Judol sudah merambah ke wartawan dan ASN. Bahkan di Keminfo sendiri ada pula yang terlibat Judol. (Kabarbenggawi.com, 26/6/2024)

Menyikapi hal tersebut, para pejabat beramai-ramai akan menindak tegas para ASN yang terlibat Judol. Termasuk di Kabupaten Bandung. Dikutip dari jabar.tribunnews.com, Bupati Kabupaten Bandung yakni Kang DS, akan melakukan tindakan tegas kepada aparatur sipil negara (ASN) yang terlibat judi online. Salah satu upayanya adalah menggelar inspeksi mendadak (sidak) terhadap handphone ASN. Menugaskan kepada BKPSDM untuk bisa memantau para ASN se Kabupaten Bandung. Apabila ASN ini ketahuan main judi online, apalagi pada waktu hari dan jam kerja, maka akan kita kenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Dadang saat ditemui di kantornya, di Soreang, Kabupaten Bandung, Senin (24/6/2024).

Miris memang. Disadari atau tidak, makin hari dampak negatif digitalisasi makin mewabah menjangkiti berbagai lapisan masyarakat. Namun, perlu kita pahami bahwa kita tidak bisa hanya mengkambing hitamkan dampak negatif digitalisasi semata. Karena sejatinya yang namanya teknologi bisa di atur dan di manfaatkan sesuai dengan kepentingan pihak pengendali. Para pemain judol maupun pinjol tidak akan terus bertambah, manakala negara dengan tegas menutup akses kepada judol serta memberikan sanksi yang tegas.
Dibalik maraknya judol, pihak yang diuntungkan hanyalah segelintir orang. Sementara selalu saja rakyat yang menjadi korban. Semua ini adalah bencana yang pasti menimpa kita manakala sistem kehidupan umat manusia jauh dari Islam.

Islam tidak akan mencegah digitalisasi, akan tetapi digitalisasi akan diatur sesuai dalam pandangan Islam. Islam memandang bahwa Judi adalah perbuatan keji. Baik dilakukan secara online ataupun offline tetaplah ia dipandang sebagai perbuatan keji. Allah SWT berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS Al-Maidah [5]: 90-91).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *