Opini

Jangan Abaikan Mitigasi

250
×

Jangan Abaikan Mitigasi

Sebarkan artikel ini

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Bencana alam melandanya kehendak Yang Kuasa
Peringatankah bagi kita?
Manusia di dunia
Kar’na kita telah saling cinta
Harta benda dan kuasa
Tanpa pandang kebenaran
Dan tanpa pandang keadilan
Bencana alam melandanya
Tiada seorang pun kuasa menekan
Bencana alam melandanya
Miskin, kaya kena petaka yang sama

Bagi penggemar lagu-lagu Iwan Fals mungkin mengenal potongan lirik lagu “Bencana Alam” ini. Lirik yang cukup menggelitik manusia agar sadar diri untuk selalu peduli dengan kondisi bumi. Bukan hanya mengeksploitasinya namun memperhatikan pula pemeliharaannya karena tugas manusia adalah memakmurkan bumi, bukan merusak bumi.

Sungguh kembali Indonesia menangis. Bumi pertiwi kembali pilu. Bencana menyapa ciptakan lara. Seperti yang dilansir detik.com, 12/5/2024, belum lama ini banjir parah terjadi di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara sejak 3 Mei 2024. Curah hujan yang tinggi menyebabkan air Sungai Lalindu meluap dan berakhir di Jalan Trans Sulawesi. Akibatnya, Trans Sulawesi lumpuh total dan 300 kendaraan terjebak banjir. Tujuh kecamatan terdampak dan 3.121 warga mengungsi. Selain itu, dua desa terisolasi. Sebanyak 729 unit rumah dan 327,7 hektare lahan pertanian dan perkebunan terendam. Beberapa prasarana umum seperti dua tempat ibadah, satu jembatan, dan satu sekolah dasar terendam banjir.

Demikian juga berita dari BBCIndonesia 13/5/2024, banjir bandang dan lahar dingin Gunung Marapi di Sumatra Barat. Banjir menerjang tiga wilayah, yaitu Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, dan Kota Padang Panjang. Akibatnya, 47 orang meninggal dunia per Senin (13-5-2024). Selain itu, 193 rumah di Kabupaten Agam dan 84 rumah di Tanah Datar mengalami kerusakan. Sejumlah infrastruktur, seperti jembatan dan masjid, juga rusak. Lalu lintas dari Kabupaten Tanah Datar menuju Padang dan Solok pun lumpuh total.

Subhaanallaah. Ternyata bncana di sekitar Gunung Marapi ini tidak terjadi hanya saat ini saja, tetapi sebelumnya secara beruntun terjadi sejak enam bulan terakhir. Tragisnya, ini merupakan “bencana terparah” yang pernah terjadi di Kabupaten Agam selama 150 tahun terakhir.

Akibat Perbuatan Manusia

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ -٤١
“Telah tampak kesusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS.Arrum:41).

Ada asap ada api. Demikianlah yang terjadi pada bencana di negeri ini. Sebagaimana yang disampaikan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Barat, apa yang terjadi di Sumatra Barat secara berulang merupakan bencana ekologis karena salah urus. Sehingga bencana banjir parah di Sumatra Barat selain karena faktor alam, juga akibat perbuatan tangan manusia yang membuat kerusakan. Penggundulan hutan salah satunya.

Demikian pula yang terjadi di Konawe Utara. Banjir parah di Konawe Utara juga disebabkan pembabatan hutan. Hutan-hutan yang berada di wilayah Konawe banyak ditebang untuk kegiatan pertambangan nikel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *