Opini

Islam Melindungi Perempuan Dari Jerat Korupsi

150
×

Islam Melindungi Perempuan Dari Jerat Korupsi

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rahmayanti, S.Pd

Keberadaan perempuan pada saat ini di dunia publik, membuat banyak perubahan-perubahan dalam kebijakan. Mereka banyak mengisi ruang yang biasa diisi laki-laki, mereka bersaing dan mendapatkan kedudukan yang dianggap mampu memberikan sumbangsih bagi berputarnya roda pembangunan. Namun tidak bisa dipungkiri dengan banyaknya mereka menduduki jabatan penting tidak urung juga bukannya bertambah baik alih-alih ternyata banyak juga yang melakukan tindak pidana korupsi.

Fakta yang terjadi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah pengusaha batubara yang juga Ketua Pemuda Pancasila Kalimantan Timur (Kaltim), Said Amin, terkait dengan kasus dugaan penerimaan gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari.

Rita kini mendekam di lapas perempuan Pondok Bambu setelah dijatuhi hukuman 10 tahun penjara oleh pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada 6 Juli 2018. Ia terbukti menerima gratifikasi sebesar Rp 110,7 miliar dari para pemohon izin dan rekanan proyek.

Memang kasus ini sudah lama berlalu namun, sosok Rita kembali menyita perhatian masyarakat karena penggeledahan lanjutan KPK terbaru, menjadi kebanggaan kalau perempuan terjun ke dunia politik untuk mengisi di berbagai bidang jabatan, tetapi di sisi lain tidak ada ruang aman bagi perempuan dari tindak pelaku kriminal seperti korupsi.

Dari catatan kasus-kasus sebelumnya, setidaknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat ada sekitar 11 orang pelaku tindak pidana korupsi yang dilakukan perempuan sepanjang tahun 2004 sampai 2015 ada yang perempuan ikut bersama suaminya dan ada juga yang menjadi pelaku korupsi itu sendiri.

Melihat fenomena ini pakar hukum pidana merasa prihatin dan mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan perempuan berani menjadi pelaku korupsi. Antara lain Karena kedudukan atau kekuasaan yang dimiliknya. Apakah dia sebagai anggota dewan, ada juga yang terbawa suaminya dan faktor gaya hidup. Meningkatnya kasus korupsi yang dilakukan perempuan sebagai suatu akibat dari banyaknya perempuan yang berkiprah di pemerintahan, yang disayangkan kemampuan bersaing perempuan dengan diiringi persaingan juga dengan melakukan tindak korupsi.
Sungguh sangat miris Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, namun menjadi penyandang jawara dalam tindak pidana korupsi, walaupun sudah berbagai cara berusaha untuk diberantas kalau tidak di akar masalahnya, maka semua jalan akan terasa sia-sia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *