Opini

Indonesia Peringkat Pertama Judi Online Dunia, Kok Bisa?

137
×

Indonesia Peringkat Pertama Judi Online Dunia, Kok Bisa?

Sebarkan artikel ini
Leni

Oleh: Leni

Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

 

Sungguh miris! Indonesia yang terkenal sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, juga terpilih menjadi negara yang religius menurut data survei CEOWORLD Magazine, tapi, bersamaan dengan itu justru Indonesia juga mendapat peringkat satu pemain judi online (judol) terbanyak di dunia. Laporan terbaru menyebutkan, transaksi judol di Indonesia mencapai angka yang mencengangkan yaitu 81 triliun. Fakta ini tentu membuat kita bertanya, “Kok bisa?”

Sebagaimana yang diungkap Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), ada 3,2 juta warga Indonesia teridentifikasi bermain judol yang berasal dari berbagai latar belakang seperti mahasiswa, pelajar, PNS, ibu rumah tangga, hingga oknum aparat kepolisian. Dan dari 3,2 juta pemain yang teridentifikasi hampir 80% rata-rata mereka bermain di atas 100 ribu.

Memang, PPATK menyatakan telah memblokir 5000 rekening dan telah memblokir 800 ribu lebih situs judol sebagai upaya untuk memberantas peredarannya yang kian meningkat, namun, ibarat pepatah mengatakan ‘mati satu tumbuh seribu’, bukannya berkurang malah semakin berkembang, bukan hanya di kota tapi juga sudah masuk ke desa-desa. Judol kini telah menjadi penyakit masyarakat yang menjadi biang dari sejumlah permasalahan sosial seperti, bunuh diri karena terlilit utang pinjol, perceraian sebab masalah keuangan, meningkatnya tindak kriminal, mengurangi produktivitas, permasalahan kesehatan mental, hingga pembunuhan. Sebagaimana kasus Polwan di Mojokerto yang membakar suaminya yang juga seorang polisi karena kesal di duga gajinya dihabiskan untuk bermain judol.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan besarnya keterlibatan rakyat Indonesia dalam judol muncul akibat kompleksitas persoalan hidup manusia sekarang, di antaranya, faktor ekonomi, sumberdaya manusia yang rendah, tekanan beban hidup yang semakin meningkat, sulitnya mencari pekerjaan, hingga ingin mendapat uang secara instan sering kali menjadi alasan untuk terjun ke dunia judol.

Semua itu terjadi karena kemiskinan struktural saat ini, sementara kemiskinan struktural terjadi akibat penerapan sistem kapitalisme. Sistem ini membuat para pemilik modal menjadi penguasa sesungguhnya dan meniadakan peran negara, aspek keuntungan materi orientasi aturannya. Selain itu, lemahnya penegakan hukum dalam sistem kapitalisme tak membuat para pelaku jera, ditambah pengawasan negara yang juga lemah membuat masyarakat masih bisa mengakses situs judol dengan begitu mudahnya.

Sistem Kapitalisme yang melahirkan akidah sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) juga yang akhirnya menjadikan masyarakat Indonesia meskipun mayoritas Muslim tetapi tidak menjadikan aturan agama sebagai petunjuk dalam menyelesaikan problematika hidupnya, sebaliknya memilih judol sebagai solusi, agama hanya dijadikan ritual saja. Dan akidah sekuler ini juga yang menjadikan seorang Muslim menghalalkan segala cara dalam melakukan perbuatannya tak peduli apakah itu halal atau haram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *