Opini

Idul Adha kembali Berbeda, Persatuan Muslim dengan Khilafah Wajib Ada

100
×

Idul Adha kembali Berbeda, Persatuan Muslim dengan Khilafah Wajib Ada

Sebarkan artikel ini

By : Kanti Rahmillah, M.Si

Amir Mekkah telah menetapkan melalui ru’yatul hilal (pengamatan bulan sabit), bahwa 1 zulhijah jatuh pada 7 Juni 2024. Sehingga Wukuf di Arofah jatuh pada tanggal 15 Juni dan idul adha jatuh pada 16 Juni 2024. Berbeda dengan Indonesia, Pemerintah menetapkan 1 Zulhijah pada 8 Juni 2024, sehingga idul adha jatuh pada 17 Juni 2024. Walhasil, tahun ini yang kesekian kalinya lebaran haji umat islam di Indonesia berbeda hari dengan di Mekah.

Padahal, tidak ada khilafiah di kalangan ulama mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali) pada perkara ini, bahwa penentuan idul adha mengikuti ru’yatul hilal penduduk mekah dan ini berlaku untuk seluruh dunia.

Dalilnya yaitu Hadist dari Husain Ibn Al-Harits Al-Jadali RA, ia berkata: “ Sesungguhnya Amir (Wali) Makkah pernah berkhutbah dan berkata: “Rasulullah SAW mengamanatkan kepada kami untuk melaksanakan manasik haji berdasarkan ru’yat. Jika kami tidak berhasil meru’yat tetapi ada dua saksi yang adil yang berhasil meru’yat, maka kami melaksanakan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya.” (HR Abu Dawud).

Salah satu derivat dari penetapan yang berbeda ini adalah saat kaum muslim puasa arofah. Bagaimana mungkin kaum muslim Indonesia puasa arofah pada hari penyembelihan hewan qurban, yaitu saat jamaah haji menjalankan idul adha? Sedangkan dalil keharaman puasa di hari raya sudah jamak diketahui umat.
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melarang berpuasa pada dua hari, yaitu hari Idul Fitri, dan hari Idul Adha.” (HR Bukhari dan Muslim).

Lantas, apa yang menyebabkan kaum muslim tidak mengikuti Amir Mekkah dalam penentuan 1 Dzulhijah? Bagaimana agar kaum muslim bisa kembali melaksanakan idul adha serempak?.

Nasionalisme
Alasan pemerintah Indonesia menetapkan hari idul Adha yang berbeda dengan Mekkah adalah karena perbedaan geografis. Pemerintah Indonesia menentukan awal bulan hijriah berdasarkan ru’yatul hilal lokal dengan Kriteria MABIMS (kesepakatan Menteri-menteri Agama Berunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura).

Padahal, ada banyak hadist yang menerangkan terkait kewajiban kaum muslim untuk beridul Adha pada hari yang sama. Salah satunya adalah hadist dari Aisyah ra.

“Idul Fitri adalah hari saat umat manusia berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika umat manusia menyembelih korbannya.” (HR Tirmidzi dari ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā)
“Bahwa hari Arafah (yaitu tanggal 9 Dzulhijjah) itu adalah hari yang telah ditetapkan oleh Imam (Khalifah), dan hari berkorban itu adalah masa Imam (Khalifah) menyembelih kurban.” (HR Thabrani dalam kitab al-Ausath, dengan sanad hasan).

Selain itu, jika pun alasan perbedaan waktu idul adha itu, merujuk pada ru’yat lokal Imam Syafii. Namun sepertinya, pemerintah tidak benar-benar merujuk pada dalil tersebut. Sebab ru’yat lokal yang dimaksud imam syafi’I adalah berdasarkan pada matla bukan nasional state alias skat negara. sebab jika memakai matla maka seharusnya wilayah Sumatera lebarannya berbeda dengan Papua.

Oleh karena itu sungguh disayangkan, penetapan idul adha di Indonesia selain tidak mengikuti putusan Amir Mekkah, juga karena skat nasionalisme. Seolah kaum muslim di Indonesia tidak ada hubungannya dengan kaum muslim di Arab juga Kaum muslim di belahan bumi lainnya. Padahal kaum muslim itu bagai satu tubuh. Seruan Allah Swt kepada umatnya adalah tidak tersekat bangsa-bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *