Opini

Idhul Adha Kembali Berbeda, Khilafah Solusi Persatuan Umat

82
×

Idhul Adha Kembali Berbeda, Khilafah Solusi Persatuan Umat

Sebarkan artikel ini

Oleh : Sriyama

Pelaksanaan Idul Adha tahun ini 2024/1445 H akan terjadi perbedaan antara Arab Saudi dan Indonesia. Arab Saudi melaksanakan Idul Adha pada Ahad 16 Juni 2024 sementara Indonesia pada Senin 17 Juni 2024. Mahkamah Agung Arab Saudi pada Kamis (6/6/2024) mengumumkan, awal Dzulhijjah atau 1 Dzulhijjah 1445 H bertepatan dengan Jumat (7/6/2024). Dengan demikian, Idul Adha yang bertepatan dengan 10 Dzulhijah akan bertepatan pada Ahad (16/6/2024).

Sementara puncak haji wukuf di Arafah akan dilaksanakan pada Sabtu (15/6/2024) bertepatan dengan 9 Dzulhijjah. Keputusan tersebut dilakukan setelah hilal yang menjadi pertanda akhir Dzulqaidah dan awal Dzulhijjah terlihat di Arab Saudi.

Anggota Dewan Ulama Senior Arab Saudi, Syekh Abdullah bin Salman al-Muni’ mengatakan, “Bulan Dzulhijjah mulai hari Jumat 7 Juni 2024, jumlah harinya 30 hari berakhir Sabtu 6 Juli 2024. Dasarnya adalah. Permulaan Dzulhijjah adalah Kamis petang 6 Juni 2024/29 Dzulqaidah 1445 H pukul 15.37.”

Sementara itu, Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI mengumumkan bahwa Hari Raya Idul Adha 1445 Hijriyah bertepatan pada Senin 17 Juni 2024 mendatang.

Berdasarkan hisab posisi hilal wilayah Indonesia yang sudah masuk kriteria MABIMS tersebut, serta adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Dzulhijjah tahun 1445 Hijriah jatuh pada hari Sabtu tanggal 8 Juni 2024 Masehi, dan Insya Allah Hari Raya Idul Adha jatuh pada Senin tanggal 17 Juni 2024. Hal ini berdasarkan pernyataan Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI Saiful Rahmat Dasuki dalam konferensi pers sidang isbat penetapan 1 Zulhijah 1445 Hijriah yang diikuti secara daring di Jakarta (Republika [dot] co, 8/6/2024).

Sementara menurut para ulama mujtahiddin berbeda pendapat dalam hal mengamalkan satu ru’yat yang sama untuk idul fitri, madzhab Safii menganut ru’yat lokal yakni mengamalkan ru’yat masing-masing negeri.

Sementara madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali menganut ru’yat global yakni mengamalkan ru’yat yang sama untuk seluruh kaum muslimin.

Artinya jika ru’yat telah terjadi di suatu bagian bumi, maka ru’yat berlaku untuk seluruh kaum muslimin di dunia meski mereka sendiri tidak meru’yat namun khilafiah semacam itu tidak ada perbedaan dalam penentuan Idhul adha, sesungguhnya semua para ulama semua madzhab telah sepakat mengamalkan ru’yat yang sama untuk Idhul Adha.

Ru’yat yang dimaksud adalah ru’yatul hilal atau mengamati bulan sabit untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah yang di lakukan oleh penduduk Mekkah, ru’yat ini berlaku untuk seluruh dunia karena itu kaum muslim dalam sejarah senantiasa Idhul Adha selalu bersamaan.

Hal ini telah di riwayatkan secara mutawatir oleh banyak orang yang mustahil melakukan kebohongan, bahkan sejak masa kenabian dilanjutkan pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin, Umawiyin, Abbasiyin dan Utsmaniyin hingga masa sekarang,

Hadist Husain Ibn Al-Harits Al-Jadali RadhiyalLahu’anhu, Dia berkata “sesungguhnya Amir atau wali Mekkah pernah berkhutbah berkata ,”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *