Opini

Hilangnya Kewarasan Ibu dalam Sistem Kapitalisme Sekuler

102
×

Hilangnya Kewarasan Ibu dalam Sistem Kapitalisme Sekuler

Sebarkan artikel ini

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

 

Seorang ibu muda di Bekasi berinisial AK, 26, ditangkap Polda Metro Jaya karena kasus ibu cabuli anak. Sama seperti kasus serupa di Tangerang Selatan (Tangsel), AK nekat mencabuli anaknya sendiri karena tergiur tawaran uang dari sebuah akun Facebook. (tempo.co, 06-06-2024).

Dua ibu ini seakan lupa bahwa merekalah yang telah mengandung dan melahirkan anak-anaknya. Fitrah sebagai seorang ibu terpangkas demi cuan yang diharapkan. Kewarasan seakan hilang demi tawaran yang menggiurkan. Kehormatan pun tergadaikan tanpa jaminan yang memuliakan.

*Mencari Biang Keladi*

Saat ini kasus pencabulan yang dilakukan oleh keluarga atau kerabat semakin merebak. Bukan sekali dua kali saja kasus pencabulan dalam keluarga terjadi. Ibu mencabuli anak kandungnya, bapak merudapaksa anak perempuannya, kakek atau paman melecehkan bahkan menyetubuhi cucu atau keponakannya, anak mencabuli ibunya, dan masih banyak kasus lainnya yang dipenuhi lingkaran syahwat.
Tentunya hal ini tidak muncul dengan sendirinya. Ada faktor yang memengaruhinya.

Faktor pertama, masalah ekonomi. Faktor ekonomi sering menjadi alasan mengapa seorang ibu atau anggota keluarga lainnya menjadi hilang rasa hingga tega merusak mental dan kepribadian anak juga menganulir kehormatan dirinya. Impitan ekonomi telah menjadikan ketidakwarasan yang parah. Segalanya dilakukan tanpa peduli lagi halal-haram, dosa atau pun tidak.

Faktor kedua, lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat. Tidak diragukan lagi, sistem kehidupan sekuler telah mengikis keimanan dan ketakwaan individu. Nilai agama tidak lagi dijadikan standar berbuat. Tontonan, tayangan, konten mesum yang banyak hiasi layar gadget dan media sosial dikonsumsi bagaikan makanan sehari-hari. Ancaman rusaknya moral generasi semakin menjadi-jadi. Gaya hidup sekuler liberal yang dijajakan melalui tontonan telah meracuni begitu rupa. Demikian yang terjadi pada perbuatan dua ibu di negeri ini. Itu yang terdeteksi, belum lagi yang tak terdeteksi. Fitrah ibu hilang, kewarasan pun sirna. Naluri keibuan dan kasih sayang yang sangat besar terhadap anak dikikis habis oleh kehidupan sekuler yang kian bengis.

Faktor ketiga, adanya ketidaksiapan fisik, psikis, dan ilmu dalam berkeluarga. Hak dan kewajiban suami atau istri dan juga anggota keluarga, komunikasi dengan pasangan juga dengan anggota keluarga, pola pendidikan dan pengasuhan anak, urgensi kepemimpinan ayah, urgensi peran ibu sebagai madrasah pertama bagi anak, belum dibekali dengan ilmu dan pengetahuan yang mumpuni. Semua relasi yang terbentuk setelah pernikahan yang sangat membutuhkan kematangan berpikir dan kedewasaan sikap sesuai pemahaman yang benar (Islam) bagi laki-laki dan perempuan yang ingin membina rumah tangga belum diupayakan perwujudannya dengan paripurna.

Biang keladi atas semua ini tentunya bukan dari Islam. Sistem sosial sekuler saat ini lah yang menyebabkan pola pikir dan pola sikap individu nihil edukasi, minim literasi, dan rendah tsaqafah Islam seputar rumah tangga. Menikah tanpa kesiapan ilmu dalam rumah tangga menjadikan semua ambyar.

Alhasil, ilmu seputar pernikahan dan rumah tangga harus dimiliki sebagai bekal dalam membina rumah tangga sakinah, mawadah, dan penuh rahmat. Oleh karena itu ilmu seputar pernikahan dan rumah tangga sebagai bekal dalam membina rumah tangga sakinah, mawadah wa rahmah sangatlah penting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *