Opini

HET Beras Naik, Rakyat Makin Tercekik, Petani Hidupnya Membaik?

728
×

HET Beras Naik, Rakyat Makin Tercekik, Petani Hidupnya Membaik?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Raodah Fitriah, S.P

 

Indonesia dikenal sebagai negara agraria, namun permasalahan kenaikan harga beras masih menjadi hal yang sering terjadi. Seperti dua berita yang ramai akhir-akhir ini, berita tentang HET (Harga Ecer Tertinggi) beras yang naik permanen setelah 31 Mei 2024 (CNN Indonesia, 20/05/2024) dan harga bahan pangan yang naik per 26 Mei 2024, termasuk beras (bisnis.com, 26/05/2024).

Kenaikan HET Beras

Beras merupakan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia sejak berabad yang lalu. Kini beras menjadi permasalahan yang sistemik karena harganya yang melangit tinggi, padahal Indonesia dikenal dengan negara lumbung padi. Tak cukup dengan itu, masyarakat dipersulit dengan pemutusan kerja dan tingginya angka kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa negara gagal dalam menjamin kejahteraan masyarakat.

Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mematok HET beras premium menjadi 14.900 hingga 15.800 rupiah, yang sebelumnya ada di harga 13.000 hingga 14.800 rupiah per kilogram tergantung wilayah. Kemudian untuk beras medium, ditetapkan menjadi 12.500 hingga 13.500 rupiah per kilogram, dari sebelumnya 10.900 hingga 11.800 rupiah per kilogram.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa pada Maret 2024 Indonesia sudah mengimpor beras sebanyak 567,22 ribu ton atau senilai USD371,60 juta. Angka impor beras tersebut naik 921,51 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan Februari atau bulan sebelumnya yakni volume impor beras yang naik 29,29 persen secara bulanan (mtm).

Kapitalisme Meniscayakan Monopoli Pasar

Di sisi lain, petani sangat senang dan berharap kenaikan HET ini mendatangkan keuntungan besar untuk mereka. Namun nyatanya tidak demikian. Petani dipersulit dengan harga pupuk yang sangat tidak wajar dan biaya produksi yang semakin mahal. Petani justru menjadi pihak yang paling dirugikan. Kalaupun dikatakan ada keuntungan yang lebih besar, nyatanya keuntungan tersebut akan digunakan untuk kebutuhan produksi.

Di lain sisi, para konsumen makin sulit mendapatkan beras. Kenaikan harga beras bukan sekadar terletak pada harganya yang melangit, namun rusaknya rantai distribusi beras. Misal di sektor hulu, ada larangan bagi petani untuk menjual beras langsung ke konsumen. Aturan ini membuat para petani terpaksa menjual gabahnya ke para pedagang pengumpul. Di samping itu banyak perusaahaan yang memonopoli gabah petani, yakni membeli gabah dengan harga yang lebih tinggi dari para pedagang pengumpul, hingga banyak yang bangkrut karena tidak mendapatkan pasokan gabah. Sementara di sektor hilir, rantai distribusi dan penguasaan pasar beras dilakukan oleh segelintir perusahaan yang memegang kendali penuh atas harga. Mereka mengolah gabah menjadi beras kualitas premium dengan teknologi canggih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *